Untukmu yang terluka

Ya, aku memang seegois demikian. Betapa masih cintanya pada keakuan.
Tapi, kau tak perlu mengasihaniku karena aku memang selama demikian untuk tumbuh.

Ya, aku tau kita tidak bisa kembali seperti kita yang dulu.
Tapi, bukankah ada yang bisa kita bawa untuk kita kenang, untuk kita pelajari, dan untuk kita tertawakan.

Ya, aku memang sudah tau bahwa air dan minyak tidak bisa bersatu kecuali ada air sabun yang mencampurkannya seperti matahari dan bulan yang tak bisa bersatu kecuali gerhana itu terjadi.
Tapi, setidaknya kita pernah mencoba berjalan bersama walau sering menghina.

Ya, aku tau kau terluka. Dan aku tau, aku tak bisa mengobatimu dengan kata maaf dan semoga kau bahagia. Itu seperti menempelkan selotip pada kaca yang pecahkan.
Tapi, jika kau benar ingin meninggalkan masa itu dan atau bahkan memutuskan masa itu tertinggal diwaktu itu, maka memori yang kuingat adalah luka dan atau mungkin memori yang kau ingatpun adalah luka. Karena itu yang bisa kita kenang, memori terkahir saat kita berbincang.

Tapi Kau juga harus tau, bahwa muda dan luka itu sering bertabrakan. Jadi tidak apa-apa terluka. Tapi semoga tidak saling membenci. Karena aku paling benci jika mengakhiri sesuatu dengan kebencian dan kemudian menyalahkan, itu membuatku hidup ditempat yang sama.

Dan yang sesungguhnya ingin kukatakan adalah ‘maaf, terimakasih, dan semoga bahagia’ mari berjabat tangan dan berlalu pergi. Karena hidup memang harus kedepan.

Untuk semua yang tertinggal di purwokerto dengan luka yang ternyata aku adalah pelakunya

Jakarta,28/7/16-04.45

Advertisements

aku telah ‘jatuh’

“…jatuh memang selalu tanpa ijin”

runtuh sudah tiap inci pagar yang kubangun dari kaktus itu. aku ingin berkata ‘bangsat kau’ dengan mengacungkan jariku tepat didepan wajahmu. dan kau membuatku kembali runtuh karena dengan lancang tersenyum atas keberhasilanmu memasuki ruang yang telah kupagari sejak dulu, sejak mata kita masih jauh untuk saling menatap, sejak mulut kita masih rapat untuk berbincang dan sejak hati kita masih tinggal dengan damai diruangnya masing-masing.

kau tidak akan pernah tahu bahkan pikiranmu pun takkan pernah sanggup membayangkan betapa pagar ini telah menjauhkanku dari berbagai ‘binatang’. tunggu, apa aku terlalu lancang mewakilkan mereka dengan kata binatang. tolong maafkan aku atas kebodohanku yang tidak bisa mencari kata lain untuk mewakilkan mereka para anak adam.

ya, aku memang sejahat demikian. untuk menjaga keakuanku dan lakuku, aku cenderung mengabaikan mereka, menghadang mereka yang mendekat dengan kaktus-kaktus itu bahkan terkadang mungkin membuat mereka terluka ketika mencoba memaksa masuk ke ruangku atau mungkin ini karena aku yang takut terluka jika mereka berhasil melewatinya. sungguh sulit memang, aku terkadang tergoda menggapai uluran tangan mereka dan keluar dari ruangku tanpa paksa, tapi berkat kaktus itu aku tetap kokoh berdiri diruangku. karena pagar kaktus itu adalah mutlak keberadaannya bagiku, tanpanya salah satu diantara kita akan terluka.

dan kau, kini melemparkan setangkai mawar merah keruangku. aku diam hanya menatap mawar yang kau lempar. dan lagi kau melemparkan setangkai mawar merah keruangku. aku mengambil mawar itu dan menatapnya. dan lagi kau melemparkan setangkai mawar merah keruangku. kukumpulkan setiap tangkai mawar yang kau lemparkan padaku, kau tahu bahwa aku harus berlutut untuk mengambilnya?. dan lagi kau melemparkan beribu mawar merah untukku dan membuatku jatuh seketika. aku menatap matamu tajam sedangkan kau terseyum dengan lebar dan mengulurkan tanganmu padaku.

ketika kau mulai melangkah melewati kaktus-kaktus itu tanpa terluka, aku menatapmu dengan harap. perlahan, kau langkahkan kakimu ke arahku dengan terus tersenyum kau tetap mengulurkan tanganmu padaku. apakah kau tau? kau adalah yang pertama yang tidak terluka saat memasuki ruangku dan apa kau akan mengerti bahwa itu adalah hal mustahil bagiku. dan sekarang, tanpa kusadari, tanpa seijinku, dan dengan bodoh aku telah jatuh tepat dihadapanmu dan berharap akan ada tangan yang bisa kugemgam saat ini dan membantuku kembali berdiri.

apakah ini kutukan atau anugrah, seolah tak berdaya aku terpikat oleh uluran tanganmu, tanpa paksa dengan sekedarnya aku ingin meraih uluran tanganmu dan menggenggamnya dengan erat, tapi kau memang binatang bangsat!

dan setelah kau melewati kaktus-kaktus itu tanpa terluka

dan setelah kau melempariku dengan beribu mawar merah

dan setelah kau mengulurkan tanganmu dengan senyuman yang memenuhi wajahmu itu

bangsat kau!

berlalu pergi, begitu saja. meninggalkan tanganku yang sudah ingin meraih tanganmu. aku hanya bisa melihat punggungmu yang melangkah pergi meninggalkan ruangku yang telah kau hancurkan. aku telah jatuh, ya aku telah jatuh tepat dihadapanmu, dan yaa kau telah berhasil mengusik bahkan meghancurkan ruangku. aku akan mengucapkan ‘selamat’ kepadamu tapi tolong ijinkan aku berkata ‘bangsat kau’ dengan mengacungkan jariku tepat didepan wajahmu.

“…kalau jatuh memang harus selalu tanpa ijin ; tidak untuk bangkit”

*tulisan ini didedikasikan untuk seorang perempuan yang telah ‘jatuh’ untuk pertama kalinya. hai cit!

rindu, bolehkah?

aku rindu padamu, bolehkah?

lancang memang, daguku tidak pernah tertunduk saat menatapmu. bahkan disaat mata kita tak sengaja saling berpandang dengan ego ku naikan daguku dan menatapmu dalam sampai kau menundukan dagumu lebih dulu. kau tak pantas tapi aku rindu padamu, bolehkah?

lancang memang, kataku menarik ulur rasamu. memancingmu berbicara apa yang hanya ingin kudengar. dan lalu mengabaikanmu dalam kalimat selanjutnya sampai kau terdiam. kau tak pantas tapi aku rindu padamu, bolehkah?

lancang memang, bahagiaku yang egois ketika yang kau tuju hanya aku. saat kau memanggil namaku sedang aku tak tahu itu adalah suaramu, saat kau membuatku tertawa bahkan dengan mempermalukan dirimu, dan saat kau melihatku sedangkan ku tak pernah menengok kearah mu. kau tak pantas tapi aku rindu padamu, bolehkah?

lancang memang, atas usaha terbesar yang kau lakukan untuk berlari kearahku. menundukan dagumu, membuatmu terbata dalam berkata, membuatmu hanya melihat kearahku adalah kesenangan yang kudapat darimu.

lancang memang, tapi aku rindu padamu, bolehkah? dan walaupun yang sekarang yang bisa kutatap hanya punggungmu yang semakin menjauh. kau tidak pantas tapi aku rindu padamu, bolehkah?

 

Jakarta, 6 Juni 2016

“…setelah kau menyuruhku untuk memotong rambutku”

 

berdua

‘ini perbuatan tidak berdosa karena tak ada rasa’
mereka tidak akan pernah tau dan mengerti, untuk melakukan hal itu dan berkata bahwa itu tidak apa-apa adalah usaha terbesar yang bisa ku lakukan sekarang. aku hanya tidak nyaman jika hanya berdua ketika bersama sang adam. hal itu terkadang memberikan rasa yang menjijikan dan kotor serta perasaan cemas. Walaupun, tidak berbuat dosa karena memang tak ada rasa. tapi apa kamu akan mengerti?

‘ini perbuatan tidak berdosa karena tak ada rasa’
mungkin kamu hanya akan memintaku untuk meminum segelas es kopi di pingir jalan, salin bertukar kata menciptakan sebuah obrolan. melakukan hal itu dan berkata bahwa itu tidak apa-apa adalah usaha terbesarku sekarang. tapi apa kamu akan mengerti?

‘ini perbuatan tidak berdosa karena tidak ada rasa’
mungkin kamu akan berpikir bahwa aku adalah salah satu manusia angkuh yang diberi kesempatan berbagi waktu denganmu tapi sulit jika kita hanya berdua. jika aku mengamini kita akan berbagi waktu bersama dan hanya berdua, melakukan hal itu dan berkata bahwa itu tidak apa-apa adalah usaha terbesarku sekarang. tapi apa kamu akan mengerti?

‘ini perbuatan tidak berdosa karena tidak ada rasa,

tapi apa kamu akan mengerti?’

personal branding

hallo, kiki fabia disini, long time no see.

well, sesungguhnya tidak banyak yang terjadi sama hidup gue akhir-akhir ini kecuali kenyataan bahwa gue harus mengubah arah pandang yang selama ini membelenggu pikiran gue.

oke ini perihal penggunaan media sosial apapun itu. gue pribadi sih cuma aktif dibeberapa medsos like facebook dan twitter yang sebenarnya udah mulai gue tinggalkan, beberapa aplikasi kayak line, bbm, whatsshap dan yang terakhir blog. oh yah gue juga pernah mengalami masa ‘gaul’ pada zamannya itu dengan ngapdate hal-hal yang berbau pribadi, gue sendiri bikin blog karena gue ingin punya dunia yang itu tuh gue abis I don’t wanna lie to myself about me, setidaknya diruang itu gue ingin jadi diri gue sendiri tanpa ingin di’lihat’ indah oleh yang lain so blog gue itu kebanyakan isinya tentang permasalahn hidup gue yang gue bisa mengumpat, bikin surat cinta, surat cacian yang emosional dan akhirnya itu susah dibaca sama orang. who cares? it just about me, from me and for me and I think I can do anything with my socmed. I can do what I want to do, I feel I can express my self, my emotions, my story or anything else and I don’t care what are you thinking about me because of my status, because this is a little world from me. ahahah but I totally wrong, it’s still social media yang akan tetap dibaca banyak orang. but now, yeah I know it’s too late but personal branding in social media is really exist.

jika kita mau dilihat ‘indah’ maka perlihatkanlah hal yang ‘indah’ dan kalau lo emang mau dianggap punya rasa kepedulian yang sungguh sangat tinggi maka perlihatkanlah. but, there is problem what if you are not like that? what if you are just follow the others? and the stupid thing is you’re not understand what you are doing, because you just follow what ‘the bombs’ in this time?maka sesungguhnya kamu telah menipu dunia? tapi memang terkadang mereka suka ditipu. oke katakanlah terkadang mereka suka di tipu oleh ‘topeng’ yang kamu gunakan, mereka akan membaca pernolality lo kayak gimana yang akhirnya berujung pada ‘label’ yang terkadang label itu menentukan arah hidup lo (red: perusahaan yang lagi rekuitmen). jadi kenyataan kalau blog gue di kepoin dan itu berhubungan dengan jengang karir lo dengan isi blog kayak gitu fiuuuh gundah gue gundah ahahahah.

ya sesungguhnya topeng itu memang dilperlukan terkadang atau mungkin bahasa lebih alusnya kita harus lebih bijaksana dalam penggunaan media sosial. ya, sedikit filter mungkin diperlukan. but are you brave enough to lie about yourself? it’s really hard for me, sungguh.

at least, gue sadar kebahagian itu memang perlu kebijaksanaan!

Tangerang,151115-21:23