berikan aku satu kata !

sebuah ‘selamat’ mungkin ?

sepertinya semesta sedang menghujani banyak berkah pada banyak manusia, salah satunya untuk dara pasundan

aah, aku masih mengingat betapa abstrak ekspresi yang parasnya lontarkan

aah, aku masih mengingat betapa gagap saat mulutnya menjelaskan

aah, aku masih sangat mengingat waktu yang berjalan bak siput yang sedang pincang

semuanya tentang dara pasundan

dimulai dari arahan kecil sang SC dalam ritual tahunan baksos fisip, disitulah kami saling mengenal. tidak terlalu lama untuk menjadi akrab karena kami dipertemukan dalam lingkaran yang sama yaitu SiAnak.

dimulai dari percakapan kecil, sebuah rahasia mulai terbongkar, disitulah kami mendekat. tidak terlalu lama untuk membeberkan tentang diri pun tentang apapun karena kami dipertemukan dalam malam-malam larut dalam sebuah tempat bernama burjo. mabok? es teh, es nutrisari, es kopi dan kawan-kawan menjadi pendamping untaian-untaian cerita disetiap malamnya.

semuanya tentang dara pasundan

yang beberapa detik lalu masih merasakan waktu berjalan bak siput yang sedang pincang

betapa susah dia meredam detak jantungnya untuk tetap berjalan beriringan dengan rasanya pun pikirannya

walaupun suaranya bergetar cepat, dia tetap menuntaskannya dengan bersih. ya, tetap saja debu itu pasti selalu datang ketika angin mulai bertiup menghampiri

4 tahun berkuliah, 2 tahun berpacaran dengan kakanda aji,  dan selamat salah satunya harus diakhiri.

tentu saja bukan jalinan kasih yang harus diakhiri, jika ya, mungkin dewi amor akan mengamuk disinggasanananya. yang harus dara pasundan akhiri ini adalah perkuliahannya. setidaknya dia sudah menemukan kunci untuk keluar dari castil ini.

haruslah dia merasa duka atau suka karena ada yang harus ditinggalkan sedangkan dia memang harus meninggalkan? setidaknya dia masih mempunyai waktu sekarang, untuk menguntai  banyak kenangan dengan lingkaran , teman, kekasih, pun untuk dirinya.

 

berikan aku satu kata?

sebuah ‘selamat’ mungkin?

dara pasundan

Erwin Azizatul Marwiyyah

semoga semesta mengijinkan kita bertemu kembali dalam keadaan baik

 

 

Advertisements

teruntuk teman di 18 Mei

holla 21 tahun

haruslah saya memberikan selamat bernada teror padamu ataukah sebuah selamat berasa syukur untukmu?

mungkin keduanya atau tidak sama sekali,

ya, katakanlah saya lebih tua dari mu 3 bulan, yang berarti 21 tahun saya sudah saya lewati selama 3 bulan ini. satu hal yang terlintas dalam pikiran saya yaitu “sudah melakukan apa saja kamu?” kehampaan pun datang mengunjungi dimalam 21 tahun, apakah itu terjadi padamu? ntahlah, yang jelas didetik 21 tahun itu saya merasa diteror dengan apa yang telah saya lakukan pun mimpi-mimpi yang saya agungkan dan akhirnya lupa untuk mengucap rasa syukur, semoga tidak terjadi padamu. bagaimanapun untuk kamu melakukan sesuatu kamu harus hidup untuk hidup kamu kamu harus bersyukur pada yang memberi hidup. seperti ituah~

teruntuk teman di 18 Mei

seseorang yang saya kenal di 3 tahun yang lalu

seseorang yang saya kenal dengan mulutnya yang terkunci dan ekspresinya yang membeku

teruntuk teman di 18 Mei

seseorang yang saya kenal di di 3 tahun yang lalu

seseorang yang menyukai fotografi dan jurnalistik

seseorang yang pernah membuat saya iri karena dia memiliki ‘sesuatu’

teruntuk teman di 18 Mei

seseorang yang saya kenal mempunyai banyak mimpi tapi buntu untuk mewujudkannya

seseorang yang kemudian berubah mempunyai banyak cara dan jalan untuk mewujudkan mimpinya

saya pikir dia tidak akan menemukan sebuah jembatan untuk menyusuri indahnya pelangi pun tak punya kuasa untuk menentang kilaunya mentari, tapi tidak saya salah !

teruntuk teman di 18 Mei

terimakasih telah hidup dan menjadikan hidupmu untukmu dan untuk semesta serta lingkaranmu yang mengamini

dan selamat ! sebuah kata selamat yang saya lontarkan untukmu agar selalu berproses

banyak yang mempunyai mimpi

banyak orang yang akan melepaskan mimpinya hanya karena segerintil batu kecil yang menusuk kaki mereka

banyak orang yang memutar balikan keinginan dan memutuskan harapan untuk mimpinya

tapi masih banyak didunia ini yang terus memperjuangkan mimpinya

hidup ini mudah, dengan lantang saya katakan TIDAK

tapi menjalani hidup ini dengan jalanmu setidaknya tidak akan membuatmu menyalahkan dunia dengan apa yang menimpamu, setidaknya kamu akan bahagia pun sengsara atas kehendakmu, setidaknya kamu bukanlah seoonggok zombie !

 

teruntuk teman di 18 Mei

yang sedang ada dihadapan saya

terimakasi sudah mengamini bahwa dirimu adalah

MUTHIA KARIMA

Makna Hidup oleh Alunan Perkusi “Kang Daong”

Makna Hidup oleh Alunan Perkusi

“Menjadi orang baik tidak selalu harus berada didepan, tetapi harus mampu berada disamping siapa saja yang membutuhkan kita”

Darmawan Sulistiyanto

Tempat / tanggal lahir            : Purwokerto, 17 Maret 1970

Pendidikan                  : SD Purwokerto Kidul

SMP 8 Purwokerto

SMA 1 Purwokerto

Administrasi Negara Fisip Unsoed

Pekerjaan                    : seniman perkusi sampai mati

 

Oleh Kiki Fabia Rahmi

Tak banyak orang memilih menjalani hidupnya dengan apa yang dia suka, tak banyak orang menjalani pekerjaannya dengan apa yang dia mau, tak banyak orang memilih pilihan hidup antara mimpi dan hidup sebenarnya, dan tak banyak orang bisa mengambil resiko dari sebuah pilihan dalam hidup kemudian bertahan dan melawan ketidakmakmurannya, seperti Darmawan Sulistiyanto (43). Kang Daong, nama yang biasa kami sebut untuk memanggilnya, dia diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya, dia diberi kesempatan untuk menikmati resiko yang akan diterimanya dalam memilih jalan hidupnya. Dimulai dari kecintaannya pada seni, berlanjut pada trauma masa lalu sang ibunda disusul kemudian pelaranngan dirinya utnuk menjadi seniman, membuatnya mennghadapi musuh terbesarnya yaitu dirinya sendiri, dengan pergulatan batin dirinya untuk menghadapi pilihan hidupnya, suara sumbang orang sekitar menjadi bumbu yang tak mudah untuk diratakan dalam hidupnya, semua itu mengantarkannya pada perkusi, perkusi itu mengantarkannya pada makna hidup yang sebenarnya, makna hidupnya, makna dari sebuah pilihan, makna dari sebuah resiko dan makna kebahagiaan yang sederhana.

Trauma Masa Lalu       

Sosok Kang Daong yang saya temui di suatu malam, pekan lalu, penuh daya hidup. Wajah tirusnya yang menampakan senyum membuat kasih bertebaran diaula fisip yang kini telah disulap mejadi panggung pementasan dan ramai oleh alunan musik teater sianak yang sedang latihan untuk pentas nanti. Binar matanya dipenuhi oleh rasa yakin atas kebenaran hidupnya, alunan suaranya saat bicara menuntun saya pada pergulatan dalam hidupnya. “ ini trauma masa lalu” ujarnya.

Trauma masa lalu sang ibunda menjadi pagar berduri untuknya. Ketika sang ayah adalah pemain keroncong yang tidak lulus sekolah pantaslah seorang ibu mengkhawatirkan anaknya akan bernasib sama dengan orang tuanya jika ia memilih untuk menjadi seniman di kemudian hari ketika dia dewasa. Sayangnya, sang ayah, setiap malam sebelum dia terlelap dalam tidur kecilnya selalu didongengi lakon goro-goro wayang, setiap malam selama bertahun-tahun semenjak dia kecil. Hal ini justru menjadi pupuk yang subur atas bibit seni yang selama ini mengalir ditubuhnya.

Perjuangan Kang Daong dimulai saat itu. dimulai sejak kecil, dia menjadi pemain bass dan drum, walaupun sempat terhenti di SMP karena dia lebih lebih tertarik dengan organisasi sekolah seperti pramuka, tetapi darah seninya tetap bergejolak membuatnya mengikuti ektrakulikuler karawitan sewaktu SMA. Tibalah hari dimana ada yang merubah hidupnya secara jungkir balik, ketika dia masuk ke perguruan tinggi Universitas Jendral Soedirman Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, beliau terjun kedunia Teater, yaitu teater SiAnak. Lalu berkesenian menjadi seniman perkusi manggung dari panggung ke panggung akhirnya terbongkar di mata orang tuanya maka pertempuran batin itu mulai pada puncaknya. Dengan sorot mata yang memulai menajam alunan suaranya masih terkendali tidak ada emosi yang bergejolak saat dia menceritakan hal itu.

Ketika ditanya menyoal bagaimana respon orang tua saat mengetahui dirinya berkesenian, dia mulai tersenyum penuh makna, kemudian dia mulai menjelaskan “ hidup itu pilihan, setiap pilihan mengandung resiko, permasalahannya adalah siap terima resikonya gak kalau ngambil pilihan itu? siap didiemin selama tiga tahun gak karena ngambil pilihan yang gak sejalan dengan kehendak orang tua?” ungkapnya dengan senyum yang mewarnai gemuruhnya malam itu.

Itulah segelintir alasan kuat kenapa dia harus bersembunyi-sembunyi dalam berkesenian, tentu saja tak dapat dipungkiri bahwa didalam darah saudaranya juga mengalir darah seni, hanya saja mereka lebih patuh akan kuasa ibu lalu pada akhirnya mereka hanya menjadi penikmat musik saja, tidak seperti jalan yang telah diambil seorang Darmawan sulistiyanto yaitu menjadi seniman perkusi, menjadi pemain bukan hanya penikmat.

Bergulat dengan pilihan

Ketika keluarga mengetahui bahwa dia memilih berkesian menjadi profesinya dia dihadapkan  dengan pilihan hidup, bukan berarti dia tidak pernah goyah oleh suara minor yang didengarnya, dia pun bukan superhero yang dalam sekejap bisa menentukan hidupnya utnuk fokus menjadi seniman perkusi, butuh sepuluh tahun dia bergulat dengan pemantapan pilihannya, butuh sepuluh tahun dia bergulat dengan pemaknaan arti kemapanan bagi hidupnya. Arti kemapanan yang mereka sepakati berdasarkan materi menjadi cambuk baginya untuk mengadapi pergolakan batin untuk memilih pilihan. Apakah dia mampu bertahan hidup dengan menjadi seniman perkusi? apakah dia siap dikucilkan orang sekitar? apakah dia siap diremehkan oleh orang sekitar dengan arti kemapanna versi mereka? Benar versi mereka. Disinilah permasalahannya muncul, perbedaan pemaknaan kemapanan antara dirinya dan keluarga serta lingkungannya sendiri menjadi beban berat untuknya memilih perkusi sebagai profesinya karena mereka menganggap pemain perkusi itu kere, sayangnya kang Daong cukup cerdas dalam mengambil keputusan untuk sebuah pilihan.

Ada alasan kenapa dia memilih berkesenian, ada alasan kenapa dia memilih mengambil resiko ini dan ada alasan kenapa dia memilih menjadi seniman perkusi. Tak lain dan tak bukan adalah karena dia melihat kondisi Indonesia zaman sekarang yang sudah banyak orang melupakan kesenian tradisionalnya, bisa dihitung dengan jari seniman perkusi di Indonesia, apalagi di Banyumas, selain dia bisa menyalurkan hasrat berkeseniannya dia juga bisa mendapatkan rizky dari perkusi, tidak munafik sebagai manusia kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup hanya saja definisi uang seperti apa yang kita maknai, definisi kemapanan seperti apa yang kita pegang.

“sekedar cukup itulah makna kemapanan bagi saya” ujarnya. Dia tidak kehilangan arah ketika tidak ada seorangpun yang menyuruhnya manggung, dia mengembangkan dirinya melalui berbagai celah yang orang lain anggap remeh. Pengalaman organisasinya semenjak sekolah mengantarkannya pada rizky yang diberikan oleh Tuhan melalui tangan organisasi di sekolahan seperti menjadi pelatih pramuka atau pecinta alam, belum lagi dia belajar merajut dan menjahit. Tidak ada batasan umur untuk belajar. Dia akan belajar apapun yang sekiranya bisa dia lakukan, dia tidak mandeg hanya dengan menjadi seniman perkusi yang menurut mereka tidak menghantarkan pemainnya untuk mencapai kemapanan hidup. Jangan merasa bisa tapi bisa merasa, perkusi sampai mati, rezeky bisa datang dari apa yang kita bisa, apa yang bisa dia lakukan maka dia akan melakukannya.

Kemapanannya menurutnya tercermin dari semua alat perkusinnya, hampir separoh penghasilan dari manggungnya diberikan untuk alat perkusinya yang sudah dijadikannya sebagai istri, ntah itu dibuat baru atau memperbaiki yang rusak karena menurutnya “penghargaan terhadap diri sendiri tercermin dari alat yang kamu pakai” . Tetapi menurut kesepakatan mereka kemapanan adalah ketika kamu bergelimang harta dengan pekerjaan yang tetap yang kamu miliki, dan seniman itu tidak bekerja yang berarti tidak punya kemapanan hidup. Orang lain banyak bertanya ketika dia keluar di pagi hari dari rumahnya, kenapa dia tidak bekerja jawabnya hanya dengan senyuman dan kenapa dia pulang selalu sampai larut malam pun hanya dijawab dengan senyuman, sampai pada akhirnya ketika orang sekitar melihatnya manggung disebuah acara barulah mereka mengerti apa yang dia kerjakan, seperti ketika dia mengeluarkan semua alat perkusinya untuk dijemur barulah mereka tahu bahwa dia adalah seorang seniman, sayangnya hanya sekedar tahu dan tidak mengerti kemudian dicibir lagi ketika dia tidak mendapatkan hari untuk manggung.

Katanya ketika hal itu terjadi maka sekeluarga didalam rumahnya akan menasehatinya lagi dengan berbagai macam alasan kemapanan, hanya saja dia hanya diam. Kenapa dia harus diam, kenapa dia tidak melawan, pertanyaan itu muncul dibenak saya dan dia hanya tersenyum ketika saya melontarkannya. Katanya dia hanya akan melakukan satu hal yaitu diam, karena dengan diam orang lain akan berpikir sebenaranya kenapa alasan dia diam. Hal ini terus diterapkannya jikalau dia dan keluarga sedang tidak harmonis. Tapa meneng menjadi solusi dan jalan keluar yang paling efektif, filosofi orang jawa ini menjadi pegangan hidupnya, ketika yang dibicarakan itu tidak penting maka dia tidak akan bicara. dengan begitu akan mengundang banyak tanya orang sekitar dan mencoba untuk memahaminya bukan sekedar untuk menceramahinya.

Butuh waktu sepuluh tahun lebih untuknya memantapkan dan fokus terhadap perkusi karena hal diatas itu. penuh pergolakan dan pergulatan batin didalamnya. Penuh dengan tanya arti hidup baginya. Penuh dengan pilihan dan resiko. Dia mengambil resikonya dia menikmatinya dia Darmawan Sulistiyanto sang seniman perkusi. Karena kebahagiaan itu sederhana, adalah ketika dia menggunakan tangannya untuk bermain perkusi, bukan hanya persoal mencari uang. Tapi bagaimana pilihan cerdas itu mengantarkannya untuk mendapatkan keduanya. Walaupun dikata tidak “mapan” oleh mereka.

Menyatakan Bahwa Diri Ada dan Dianggap Ada

“kamu ada dan kamu berharga” awalannya ketika dia berbicara tentang hidup. Banyak perkataannya yang ingin saya kutip disini, sayangnya malam terlalu gelap untuk menuliskan semua perkataan bijak darinya. Kamu ada dan kamu berharga. Baginya orang berfisik seperti dirinya yang kurus, sudah tua, hitam dan memakai kacamata, tidak ada jalan lain kecuali memiliki kemampuan yang orang lain tidak miliki, sudah seperti kewajiban bagi kita untuk menunjukan diri kita dengan apa yang kita bisa karena membuat kamu dianggap ada itu sesuatu yang penting, menghargai diri kamu itu adalah sesuatu yang penting, dimana pun kamu berpijak buatlah dunia tahu siapa kamu dengan kemampuan kamu. Seperti dia yang mungkin tidak akan pernah dilihat oleh orang lain jika dia tidak menjadi seniman perkusi walaupun banyak pihak masih ada yang meremehkannya, tapi bagi mereka yang paham apa itu seni maka proses penghargaan yang tinggi akan diberikan banyak orang bagi dirinya.

Teater mengantarkannya pada pemaknaan hidup, perkusi mengantarkannya pada arti dari sebuah kebahagaian yang sederhana, orang tua mengantarkannya pada sebuah pilihan yang membuatnya kini mejadi orang yang hebat.

Dia belajar meditasi di teater untuk mengolah rasa, mengendalikan rasanya mengatur emosinya sehingga dia bisa menetralisir tekanan-tekanan yang keluar dari suara sumbang orang sekitarnya, dia tidak pernah berhenti menelusuri makna hidup yang sesungguhnya yang kemudian mengantarkannya pada filosofi-filosofi orang tua, bagaimana mereka bisa bertahan hidup seorang diri. Dia tidak pernah berhenti belajar yang mengantarkannya pada banyak buku filsafat dan psikologi, bagaimana cara mengolah optimisme diri. Sepuluh tahun dia mengolah optimisme diri, sepuluh tahun dia berkelana seorang diri mencari makna hidup, sepuluh tahun dia bergulat dengan dirinya, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencapai pada pilihan hidupnya. Lalu kemudian.

“perkusi mengantarkan saya pada pemaknaan hidup dimana menjadi orang baik tidak selalu harus berada didepan, tetapi harus mampu berada disamping siapa saja yang membutuhkan kita”

Dia menyanggah kalau dia masih berjiwa muda, dia melontarkan pembenaran jikalau dia hanya pandai untuk memposisikan tempat dimana dia berada dan bagaimana dia harus berprilaku tetapi sampai sekarang saya masih menganggapnya berjiwa muda.

Dan seperti itulah kang daong yang saya kenal dengan pipi tirusnya dan senyum hangatnya mengatarkan kita belajar arti hidup yang sebenarnya, melalui perkusi dia hidup menghidupi hidup yang sebenarnya atas dirinya dan orang sekitarnya.

 

untuk aka

3 Maret 1990

Teruntuk saudara perempuan saya yang sempurna

Dia-yang-namanya-belum-bisa-disebut adalah saudara perempuan saya yang sempurna, kesempurnaannya beriringan dengan usia yang mulai maju kedepan, ya 23 tahun, sekarang dia berusia 23 tahun, selamat !

Saya melihat parasnya yang bersinarkan air wudhu betapa dia makhluk Tuhan yang dicinta

Saya melihat tangan yang membersihkan setiap sudut ruang dalam rumah betapa dia anak yang paling dinanti

Saya melihat aroma berbagai rasa yang mendekam ditubuhnya betapa dia istri yang sangat didamba

Saya melihat betapa dia begitu sempurna, adakah dirinya yang tidak melihatnya?

Apa yang ingin saya tuliskan adalah semua tentang terimakasih dan maaf

Ini adalah cerita saya tentangnya, bukan hal mudah untuk menumpahkan 23 tahun dalam sebuah cerita singkat, tapi saya tetap ingin bercerita. Ini adalah cerita saya tentangnya !

Dulu saya masih ingat betul ketika saya masih berigus betapa saya ingin seperti dia, saya meyayangi dia, saya menangis ketika dia pergi ke pesantren, saya menangis dalam sujud, saya seperti orang dewasa saat itu, saya merindukannya setiap saat, walaupun semenjak saya dilahirkan mungkin kita tidak pernah tidak saling memukul atau menghina, saya merindukannya disetiap saat. Begitu bahagia saat dia pulang kerumah, tapi mungkin tidak terlalu bahagia untuknya, saya diacuhkan. Saya mengerti, saya mulai terbiasa dengan perlakuannya terhadap saya, saya masih menyayanginya, apakah saya begitu memalukan untuk dianggapnya sebagai adik, mungkin karena tingkah saya yang sering membuatnya malu selama kita bersekolah disekolah yang sama, ditingkat dasar. saya mulai terbiasa, kemudian saya merasa sangat terluka, dulu saat saya ingin bersamayn di pesantern dia jelas menolak kehadiran saya, tepat saat itu saya sangat terluka, adakah saya sangat menjadi beban baginya, saya menerimanya kemudian, saya mencoba biasa, tapi saya terluka sungguh, saya menyayanginya begitu banyak.

Saya bersekolah ditempat yang sama dengannya, kami seperti dua orang yang tidak saling mengenal walau terkadang saling menyapa. Saya mempunyai dunia saya sendiri, saya mempunyai banyak teman, saya bahagia memeliki mereka yang membuat saya melupakan bahwa saya memiliki saudara perempuan yang tak jauh berbeda umurnya dengan saya. saya merasa terhibur, setelah pulang sekolah saya pasti bermain dengan mereka, organisasi membuat saya lupa dimana saya tinggal. Saya masih ingat betul saat saudara perempuan saya keluar dari pesantren itu dia menangis sejadi-jadinya, saat itu kalau dia masih ingat saya menghampirinya hendak menghiburnya, saya disentaknya, saya terluka, saya ingin menangis tapi tidak bisa.

Dia melanjutkan sekolahnya di SMA 1 Majalengka, ada alasan kenapa saya ingin pergi kesana, saya ingin bersamanya, dia masih kaku, saya terbiasa dengan kekakuannya dan kecuekannya pada saya, tapi setelah saya masuk SMA yang sama dengannya dia mulai baik pada saya, tapi saya tidak seperti dulu, sayalah yang jahat sekarang, dia begitu baik saya merasa biasa saja, dia banyak berkorban untuk saya, saya masih merasa biasa saja, perhatian yang dia berikan untuk saya adalah gangguan terbesar dalam hidup saya, saya tidak ingin mempunyai saudara perempuan, saya tidak bermaksud untuk berkata begitu, tapi apakah hati saya begitu terluka? Saya mencoba menjadi diri saya. Saya tetap cuek padanya lebih parah daripada apa yang dia lakukan dulu pada saya. Kami memliki hubungan yang baik kemudian tapi saya masih dengan kecuekan saya. Dia sangat perhatian pada saya, kata teman saya “kamu tuh jadi adik durhaka banget, nyuruh ini itu ke kaka sendiri, untung aja kakanya baik” . saya bersyukur

Setelah saya masuk kuliah, saya semakin jauh dengan dia, kami berkomunikasi sekali-kali, kata orang tua saya saya harus menelponnya sekali-kali katanya dia merindukan saya begitu banyak. Dia begitu menginginkan saya bersamanya, itu tidak berlaku untuk saya, dia menangis dihadapan saya, menginginkan saya tidak meninggalkannya, mengapa dia begitu lemah. Saya sangat jahat saya baru menyadari sayalah yang memutuskan komunikasi dengannya. Saya begitu terbebani olehnya, tapi dia merasa tetap senang asalakan saya ada, saya begitu merasa sangat jahat kepada saudara perempuan saya, saya mendengarkan cerita orang lain tapi tidak ingin mendengarkan cerita saudara perempuan saya, saya memberi kabar dan sms juga bertelpon dengan orang lain tapi tidak dengannya, saya bercerita banyak dengan orang lain tapi tidak dengannya, saya dekat dengannya hanya saat saya membutuhkan bantuannya, dia tidak apa-apa dia masih senang asalkan saya ada, saya merasa sangat buruk, saya begitu baik memperlakukan orang lain tapi tidak dengan saudara perempuan saya. Saya begitu jahat.

Saya merasa bersalah sampai didetik saya menulis tentang dia, saya iri padanya, dia pintar dia putih dia begitu banyak yang menyukainya termasuk keluarga besar saya, kerap kali saya dibandingkan dengan dia, saya hanya diam itu kenyatannya, saya ingin seperti dia. Dia yang belum mengetahui betapa sempurnanya dia sebagai anak sebgai kaka dan sebgai wanita.

Saya yakin Allah akan memberikan yang terbaik dalam hidupnya, saya yakin. Walaupun banyak cobaan yang dia lewati selama 22 tahun ini akan ada berlipat kebahagiaan utuknya, saya yakin.

Haruslah saya meninggal lebih dulu daripadanya

Haruslah dia menikah lebih dulu daripada saya

Saya ingin melihat dia bahagia

saya tidak bisa memberikan apapun padanya, saya hanya bisa menjadi adik seperti ini, tapi saya mencoba untuk menjadi adik yang lebih baik lagi untuknya,

saya berdoa setiap doa yang dia panjatkan akan selalu didengan oleh-Nya. Saya menyayangi saudara perempuan saya INA ISNAENI.

dia, penari yang direnggut jiwanya

Dia penari yang direnggut jiwanya

Masih sangat hangat emosi yang terlontar disetiap katanya

Masih sangat hangat emosi yang terlontar disetiap inci dari parasnya

Masih sangat hangat emosi yang terlontar disetiap hela nafasnya

Dia tidak menagis

Dia tidak tertawa

Dia begitu kecewa

Aku merasakannya

Dia penari yang direnggut jiwanya. Pertama aku melihat tulisan yang tertempel dialmarinya “tidak semua orang akan selalu berada diatas, ada kalanya dia dibawah dan itu adalah WAJAR” aku pikir ada yang salah dengannya, aku tidak bertanya, aku masih berpikir tulisannya berbicara tentang apa.

Dia mulai berbisik, menceritakannya pelan, dia tidak menggebu untuk menangis, “aaah sepertinya dia belum menceritakan kegundahannya pada siapapu”, aku mendengarkan.

Dia bercerita dengan penuh binar kecewa dimatanya, suaranya naik-turun, tangannya tidak mau diam, sebisa mungkin dia ingin memberitahuku apa yang dia rasa, aku mendengarkan.

Dia penari yang direnggut jiwanya, dia melihat batu besar menghadang jalannya, aku ingin dia melihatnya dengan jelas “kamu bisa memutari batu itu untuk berjalan kembali”

Dia penari yang direnggut jiwanya, dia melihat jembatan itu putus dihadapannya, aku ingin dia melihat kebawah “kamu masih bisa menaiki rakit untuk berjalan kembali”

Dia penari yang direnggut jiwanya, dia melihat cermin itu retak dihadapan wajahnya, aku ingin dia melihat “kamu masih mempunyai berjuta mata untuk melihatmu”

Dia penari yang direnggut jiwanya karena kecewa

Aku bertanya “adakah kamu merasa nikmat ketika kamu menari?” -“iya” . aku harap dia memotret dengan jelas jawaban apa yang dia berikan waktu itu, bukan untuk menjawab pertanyaanku, bukan karena aku yang bertanya. Itulah jiwamu, “adakah aku didalam dirimu ketika kamu menari? Bagaimana mungkin aku direnggut oleh rasa kecewa yang kini kau anggungi?”

Dia bukan wanita kuat seperti kalian lihat

Dia bukan wanita lemah seperti kalian kata

Dia hanyalah seorang gadis kecil yang mulai memainkan setiap jentik jemarinya, setiap lekuk tubuhnya, setiap hentakan kakinya – untuk menari. Dia yang sekuat tenaga mengepakkan sayapnya untuk terbang sampai saat ini, dia yang sayapnya terluka karena kecewa. Aku ingin dia berkaca atau jadikanlah mata kami kaca untuknya bercermin, betapa hebatnya dia !

Dia penari yang direnggut jiwanya, segera menemukan jalan pulang !

12:34 – 200213