PEREMPUAN DAN LINGKARAN 3T (TINJAU, TELAAH, TINDAK)

#ini itu tugas Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat

Pendahuluan

Perempuan adalah lentera dalam sebuah ruang bernama rumah. Kita sering mendengar bahwa tugas perempuan hanya terwakili dengan 3 buah kata yaitu “Kasur, Dapur dan Sumur”. Kata-kata yang sangat pupuler dikalangan masyarakat ini membuat nasib perempuan hanya bertombak pada pendapatan sang suami. Kekerasan terhadap perempuan sering kita jumpai di masyarakat Indonesia. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang melanggar, menghambat, meniadakan kenikmatan dan mengabaikan hak asasi perempuan.

Tindak kekerasan di dalam rumah tangga (domestic violence) merupakan jenis kejahatan yang kurang mendapatkan perhatian dan jangkauan hukum.  Tindak kekerasan di dalam rumah tangga pada umumnya melibatkan pelaku dan korban diantara anggota keluarga di dalam rumah tangga, sedangkan bentuk tindak kekerasan bisa berupa kekerasan fisik dan kekerasan verbal (ancaman kekerasan).  Pelaku dan korban tindak kekerasan didalam rumah tangga bisa menimpa siapa saja, tidak dibatasi oleh strata, status sosial, tingkat pendidikan, dan suku bangsa.

Tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga merupakan masalah sosial yang serius, akan tetapi kurang mendapat tanggapan dari masyarakat dan para penegak hukum karena beberapa alasan, pertama: ketiadaan statistik kriminal yang akurat, kedua: tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga memiliki ruang lingkup sangat pribadi dan terjaga privacynya berkaitan dengan kesucian dan keharmonisan rumah tangga (sanctitive of the home), ketiga: tindak kekerasan pada istri dianggap wajar karena hak suami sebagai pemimpin dan kepala keluarga, keempat: tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga terjadi dalam lembaga legal yaitu perkawinan. (Hasbianto, 1996).

Sebagian besar perempuan sering bereaksi pasif dan apatis terhadap tindak kekerasan yang dihadapi.  Ini memantapkan kondisi tersembunyi terjadinya tindak kekerasan pada istri yang diperbuat oleh suami.  Kenyataan ini menyebabkan minimnya respon masyarakat terhadap tindakan yang dilakukan suami dalam ikatan pernikahan.  Istri memendam sendiri persoalan tersebut, tidak tahu bagaimana menyelesaikan dan semakin yakin pada anggapan yang keliru, suami dominan terhadap istri.  Rumah tangga, keluarga merupakan suatu institusi sosial paling kecil dan bersifat otonom, sehingga menjadi wilayah domestik yang tertutup dari jangkauan kekuasaan publik.

Perempuan yang akhirnya hanya berkutat pada pekerjaan rumah tangga saja membuatnya tidak mandiri, ditambah dengan adanya kekerasan rumah tangga yang terjadi padanya membuat dia tidak punya pilihan lain selain menopang dirinya sendiri tetapi dampak kekerasan yang terjadi pada dirinya ini membuat dia tidak berdaya melakukan apapun, dia hanya akan bekerja secara sembarang yang penting dia mendapatkan uang. Hal ini lah yang mejadi salah satu keresahan untuk diadakannya pemberdayaan perempuan.

Pemberdayaan Perempuan adalah upaya pemampuan perempuan untuk memperoleh akses dan control terhadap sumber daya, ekonomi, politik, social, budaya, agar perempuan dapat mengatur diri dan meningkatkan rasa percaya diri untuk mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah, sehingga mampu membangun kemampuan dan konsep diri.

Didalam sebuah proses pemberdayaan pastilah kita akan melewati tiga tahap pemberdayaan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Sweeney, seperti sebuah perjalanan, yang dimulai dari satu titik dan berakhir pada titik yang lain. Untuk sampai pada titik tujuan maka orang harus bergerak ke arah yang tepat. Di sini orang memerlukan peta yang dapat memandu dan menunjukan arah yang harus ditempuh agar sampai ke tujuan. Dan itulah mengapa kita sangat membutuhkan 3T (Tinjau, Telaah, Tindak) dalam sebuah proses pemberdayaan.

Perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama masyarakat yang terkena dampak langsung dari pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu aturan atau suatu kecenderungan dari sifat manusia akan memiliki komitmen terhadap suatu keputusan apabila sejak awal terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan.

3T ini memang bagian dari proses perencanaan tetapi masalah yang dihadapi perempuan dalam hal ini korban tidak kekerasan menjadi sangat kompleks alhasil proses pemberdayaan pun akhirnya bertahap dan dibagi menjadi banyak aspek. Sehingga proses 3T menjadi sebuah lingkaran yang hanya tidak akan pernah putus walaupun pemberdayaan oleh fasilitator telah berakhir. Karena tujuan dari pemberdayaan adalah membuatnya mandiiri sehingga ketika terjadi permasalahan didalamnya mereka sendirilah yang melakukan 3T itu.

 Pembahasan

Korban perempuan KDRT biasanya memiliki sifat yang belum mapan dalam hal ekonomi bahkan seseoorang perempuan yang terpelajar dan mandiri secara ekonomi pun tetap dapat menjadi pribadi yang tidak mudah mengambil keputusan dalam menghadapi KDRT. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, yaitu Karena perempuan cenderung memiliki karakteristik individu (pasif, cenderung kecil hati dan tidak mampu mengambil keputusan). Peristiwa masa lalu yang membekas dan menghalangi bersikap asertif (trauma masa lalu yang belum terselesaikan dengan baik dan berpengaruh terhadap cara berpikir, merasa dan bertindak saat ini). Dan Keluarga berasal dari keluarga konvensional dan menekankan keutuhan rumah tangga sebagai hal yang paling baik (ideologi gender yang kaku).

Dampak yang akan diderita oleh perempuan korban KDRT biasanya dapat dibedakan dalam ”dampak segera” setelah kejadian, serta ”dampak jangka menengah atau panjang” yang lebih menetap. Dampak segera, seperti rasa takut dan terancam, kebingungan, hilangnya rasa berdaya, ketidakmampuan berpikir, konsentrasi, mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan. Mungkin pula terjadi gangguan makan dan tidur.

Begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi perempuan KDRT menyadarkan banyak orang untuk memperdayakannya.

Dalam sebuah perencanaan desain pelatihan harus dirancang berdasarkan analisis kebutuhan yang dilakukan secara partisipasif. Sehingga, dapat ditemukan fokus penelaahan kebutuhan dan potensi untuk masing – masing pihak. Atas dasar itu, proses interaksi pembelajaran dapat dilakukan melalui pendekatan 3T (Tinjau, Telaah , Tindak). Penggunaan 3T dalam memberdayakan perempuan korban tindak kekerasan menjadi wajib hukumnya walaupun memang benar 3T itu harus dilaksanakan dalam setiap pemberdayaan hanya saja dengan permasalahan yang sangat kompleks 3T menjadi tidak bisa dipisahkan dengan perempuan.

  1. Tinjau

Adalah proses pertama yang harus dilakukan dalam sebuah perencanaan 3T yaitu dengn melihat, mengamati dan memeriksa kondisi masyarakat secara langsung dengan harapan fasilitator akan mengenal dengan jelas apa yang terjadi di masyarakat dan akhirnya menetapkan tindakan yang tepat dalam sebuah pelatihan. Dalam kasus ini pada saat meninjau fasilitator bukan saja hanya melihat permasalahn dari luar kehidupan si korban melainkan mencari tahu permasalah yang terjadi lebih dalam kepada target yang akan diberdayakan. Karena jika fasilitator hanya melihat dari luar maka pemberdayaan yang terjadi juga hanya akan berupa pemberdayaan finansial, sedangkan perempuan tindak kekerasan juga membutuhkan pemberdayaan psikologisnya. Tinjau meliputi proses sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi kebutuhan untuk melihat sejumlah permasalahan yang dihadapi oleh perempuan korban KDRT.
  2. Mengidentifikasi potensi atau sumber daya yang ada untuk kepentingan pemenuhan dan pengembangan keterampilan.
  3. Memfokuskan pada tujuan dan jenis tugas atau bidang kerja yang dibutuhkan.
  4. Telaah

Adalah proses pengkajian terhadap hasil yang diperoleh dari tinjau, dimana didalam proses ini kita akan menghasilkan opsi-opsi pelatihan, menimbang dan memutuskan apa yang seharusnya dan sebaiknya titetapkan dalam sebuah pelatihan. Telaah menjadi bagian yang penting karena disini kita akan memutuskan sebuah pilihan dengan pertimbangan baik-buruknya pilihan itu. disini fasilitator dituntut untuk mengambil sikap. Telaah meliputi proses sebagai berikut:

  1. Menganalisis dan menetapkan prioritas masalah dan kebutuhan tugas
  2. Menganalisis berbagai kemungkinan pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan
  3. Menyusun rencana tindakan peningkatan kemampuan dan keterampilan kerja.
  4. Tindak

Adalah proses dimana kita sudah mendapatkan pilihan atau arahan dari hasil kita menelaah permasalahan di atas yang pada akhirnya kita sudah tahu bagaimana kita bertindak dalam proses pelatihan. Tindak adalah sebuah aksi nyata dari sebuah perencanaan. Tindak meliputi proses sebagai berikut :

  1. Memberikan sejumlah pengalaman baru ( administrasi, teknis; memberikan dukungan; kesempatan menyusun perencanaan)
  2. Mengajukan pertanyaan; Jelaskan tujuan dan sasaran; memberi kesempatan untuk melakukan penjualan kembali dan membuat kesimpulan
  3. Berikan cukup waktu membuat persiapan, memahami dan menentukan pilihan dari hasil uji coba, contoh, dan praktik
  4. Pengembangan kinerja tim kerja “team work
  5. Mengorganisir iklim dan lingkungan belajar

Contoh pemberdayaan perempuan oleh lembaga sosial bernama “Sahabat Perempuan”. Sahabat perempuan ini merepukan oraganisasi non-pemerintah pertama dikabupaten Magelang dan merupakan badan otonom yang bersifat independen dan nirlaba karena sifatnya yang memang sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat dengan melibatkan 3T didalamnya.

Sehingga dalam proses pemberdayaan sahabat perempuan membagi pemberdayaan perempuan melalui beberapa aspek yaitu :

  1. Pemberdayaan melalui pendampingan. Dilakukan dengan cara :
  2. Pendampingan hukum, yakni pendampingan untuk memberikan bantuan kepada perempuan dan anak korban kekerasan untuk mendapatkan hak-haknya didalam hukum negara.
  3. Pendampingan psikologis, yakni melalui konseling yang membantu survios untuk sanggup melewati masa kritis dan mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan mereka sendiri.
  4. Pendampingan sosial, yakni pendampingan dengan terus membangkitkan jiwa survior agar dapat bangkit dari keterpurukannya, memberikan semangat agar survios dapat kembali bermasyarakat
  5. Pendampingan keagamaan, yakni pendampingan yang diberikan kepada perempuan mengetahui hak-hak perempuan dari keyakinan agama yang dianut masing-masing
  6. Pemberdayaan melalui seni sebagai Trauma Healing, yakni sahabat perempuan memanfaatkan seni untuk terapi penyembuhan trauma bagi survior yang membutuhkan.
  7. Pemberdayaan melalui perpustakaan, yakni dilakukan untuk menambah pengetahuan survior dan masyarakat sekitar.
  8. Pemberdayaan melalui kewirausahaan, penguatan ekonomi ini dilaksanakan dengan pelatihan-pelatihan membuat hadycraf dan pelatihan kewirausahaan dengan memberikan pinjaman uang tanpa bungan tanpa jaminan.

Kesimpulan

Perempuan yang sering dikonstruksikan oleh masyarakat sebagai kaum yang lemah dengan pribahasa “Kasur, Dapur, Sumur” ini menjadikannya sering mendapatkan tindak kekerasan verbal atau pun non verbal perempuan yang mengalami tindak kekerasan sering kali merasa trauma dan kehilangan kepercayaan diri, sehingga mereka memerlukan pemberdayaan agar dapat kembali bangkit dan berdata di lingkungan masyarakat.

Proses pemberdayaan pada perempuan korban kekerasan sangat komplek karena bukan hanya keadaan finansial yang perlu diberdayakan tetapi pemberdayaan psikologisnya juga sangat kompleks.

Dengan kekompleks-an permasalahan yang dihadapi tidak bisa dilali sebuah pemberdayaan tanpa bantuan 3T didalamnya. Karena dengan 3T proses pemberdayaan akan menjadi lebih tertata dan terarah sehingga tujuanpun akan dicapai secara efektif.

3T tidak bisa selesai hanya karena fasilitator berhenti untuk memberdayakan. Karena setelah saatnya perempuan itu bisa mandiri merekalah yang akan melaksanakan 3T itu sendiri. Seperti sebuah lingkaran, 3T merupakan proses yang tidak akan berhenti dari sebuah pemberdayaan.

Implikasi

Implikasi yang bisa penulis berikan adalah :

  1. Sangat berat melakukan pemberdayaan kepada perempuan korban tindak kekerasan oleh sebab itu dukungan dari berbagai kalangan, hukum, tokoh masyarakat sangat diperlukan.
  2. Penggunaan media massa dan media sosial sangat diperlukan dalam sebuah pemberdayaan perempuan tindak kekerasan karena dengan menularkan keresahan kepada orang lain diharapkan orang lain banyak yang peduli terhadap permasalahan ini. Memang benar dalam pemberdayaan komunikasi antar persona adalah jalan terbaik tetapi banyak wanita diluar sana juga mungkin mengalami hal ini. Oleh sebab itu dengan penggunaan media massa dan media sosial akan lebih bisa mengembangkan jaringan pemberdayaan perempuan itu sendiri. Sehingga semakin banyak orang yang tahu semakin banyak orang yang resah semakakin banyak pula yang akan peduli dengan nasib perempuan tidak KDRT.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Abrar Ana Nadhya, Tamtari Wini (Ed) (2001).  Konstruksi Seksualitas Antara Hak dan Kekuasaan. Yogyakarta: UGM.

 

Nurmalasari, Novita Erna. 2012. Pemberdayaan Perempuan Korban Kekerasan Berbasis Feminis oleh “Sahabat Perempuan” di Kabupaten Magelang. Tersedia: http://digilib.uin-suka.ac.id/7676/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf [5 Januari 2014].

 

Poerwandari, K. & Lianawati, E. 2010. Petunjuk penjabaran kekerasan psikis untuk menindaklanjuti laporan kekerasan psikis. Jakarta: Program Studi Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

 

 

Sumpeno, Wahyudin. 2009. Sekolah Masyarakat. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

 

Advertisements

review jurnal perempuan dalam iklan

Bagi perempuan yang lahir pada tahun 1980-an , seks di media sudah menjadi teman setia. Teman setia ketika pulang kerja, teman setia ketika memasak, teman setia ketika bercengkrama di depan layar biru, menjelajahi setiap chanel yang tertangkap dalam frekuensi TV, teman setia ketika bersantai menyirup secangkir teh atau kopi, membuka setiap halaman dalam majalah. Seks di media menemani perjalanan hidup kita mulai dari bangung tidur sampai kita terlelap lagi. Seks ada dimana-mana, pada program televisi prime time, film, dan video musik. Sangat jarang untuk melihat sebuah jam di televisi dan tidak melihat seksualitas serta penggambaran peran gender tradisional didalamnya, dalam sebuah program ataupun iklan komersial.

Apakah penggambaran peran tradisional gender memiliki tempat lebih sedikit dibandingkan dengan seksual yang disajikan? Nyatanya, peran gender tradisional tidak kalah banyak disajikan dalam media, khususnya periklanan tetapi apakah hal ini tidak terselip seksualitas didalamnya? Adakah yang tidak menyadarinya? Jawabannya, pasti banyak. Seseorang akan merasa “itu” (peran gender tradisional) bukan apa-apa. Tidak ada masalah dengan iklan itu, tidak ada masalah jika banyak wanita yang muncul dilayar tv, tidak ada yang janggal karena seharusnya memang seperti itu. konstruksi media, penyajian ataupun kemasan produk oleh media serta apa tanggapan kita sebagai konsumen, menjadi topik yang menarik untuk diteliti. Setidaknya itulah yang mungkin dipikirkan oleh Eva Espinar-Ruiz dan Cristina González-Díaz dengan Amanda Zimmerman dan John Dahberg.

Penelitian mengenai “gender” yang berfokus pada topik perempuan dalam iklan ini pernah diteliti oleh Eva Espinar-Ruiz dan Cristina González-Díaz (2012) yang berjudul “Gender portrayals in food commercials: A content analysis of Spanish television advertisements” . Peneliti selanjutnya bernama Amanda Zimmerman dan John Dahberg (2008) dengan judul “The Sexual Objectification of Women in Advertising: A Contemporary Cuiturai Perspective”.

Penelitian pertama oleh Eva Espinar-Ruiz dan Cristina González-Díaz (2012) yang berjudul “Gender portrayals in food commercials: A content analysis of Spanish television advertisements” menyinggung tentang peran tradisional gender yang dicipta dalam sebuah iklan. Penelitian juga menekankan fakta bahwa perempuan terus ditampilkan, untuk tingkat yang lebih besar, dalam konteks domestik (Valls dan Martínez, 2007: 694-697; Bresnahan et al, 2001); sebagai ibu rumah tangga, ibu atau melakukan pekerjaan stereotip dan sebagai orang dewasa, sebagai lawan dari keragaman yang lebih besar dari “penggambaran karakter laki-laki di seluruh rentang kehidupan” (Stern dan Mastro, 2004: 381, Coltrane dan Messineo, 2000), bentuk tubuh kurus tampaknya menjadi kriteria keindahan dan feminitas (Furnham dan Imadzu, 2002; Santiso, 2001); dan laki-laki sering muncul seperti yang berwenang atau orang-orang ahli (Aronovsky dan Furnham , 2008: 172).

Selain penguatan peran gender tradisional oleh iklan, penelitian ini pun bersinggungan dengan penelitian kedua yaitu wanita masih dijadikan sebagai objek seksualitas untuk mendongkrak sebuah produk. Tetapi penelitian kedua lebih berfokus pada peneliti memberikan gambaran tentang ketidakadilan gender ini kepada konsumen dan apa tanggapan konsumen melihat realitas tersebut. Jadi kedua jurnal ini memang seperti saling melengkapi seperti ketika kita berkata “ini loh ada ketidakadilan disini, apa yang kamu pikirkan setelah melihat ketidakadilan ini?”

Bagaimanapun kedua penelitian ini adalah merujuk pada “pernyataan” dan “tanggapan” atau bisa dikatakan seperti, peneliti pertama ingin memperlihatkan ada penguatan peran gender tradisional wanita dalam iklan dan wanita ternyata dijadikan objek seksual dalam sebuah produk iklan. Sedangkan penelitian kedua lebih memperlihatkan, ketika ada ketidakadilan gender bahwa wanita masih dijadikan bahan seksualitas dalam sebuah iklan bagaimana menurut konsumen melihat kenyataan seperti itu khususnya kepada konsumen wanita itu sendiri. kedua penelitian ini berada pada dua jalur bedah berbeda penelitian pertama meneliti medianya sedangkan penelitian kedua meneliti efek yang diterima konsumennya. Maka teori yang digunakan pun adalah keduanya berbeda.

Dimana penelitian pertama yaitu “Gender portrayals in food commercials: A content analysis of Spanish television advertisements” menggunakan teori agenda-setting yang diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat. Agenda setting menjelaskan begitu besarnya pengaruh media berkaitan dengan kemampuannya dalam memberitahukan kepada audiens mengenai isu – isu apa sajakah yang penting.

Dalam kaitan dengan wanita dalam iklan, kita bisa melihat dengan menggunakan teori ini akan memperkuat proses konstruksi atau pelanggengan peran gender tradisional wanita dalam masyarakat karena seperti sifat sebuah iklan , “Iklan adalah media yang efektif dan meresap pengaruh dan persuasi, dan pengaruhnya adalah kumulatif,  seringkali halus, dan terutama sadar” (Kilbourne , 1999: 67).

Ketika sebuah iklan contohnya, iklan bumbu masakan yang menampilkan wanita sebagai ibu rumah tangga yang memasak sedangkan pria adalah seorang suami yang baru pulang kerja dan mendapati istrinya yang sedang memasak kemudian mencoba masakan istrinya itu ternyata enak. Iklan ini kemudia tidak hanya di putar sekali tapi berkali-kali dalam sehari sehingga konsumen akan menganggap bahwa produk yang ditampilkan atau diiklankan berkali-kali adalah produk yang bagus (agenda setting, apa yang dianggap penting media akan dianggap penting pula oleh khalayak) sedangkan penguatan peran gender tradisionalnya sendiri adalah tercermin dalam adegannya yaitu wanita memasak dan pria bekerja. Iklan yang terus diulang-ulang ini akan semakin lama semakin kita mengamininya bahwa wanita yang harus masak dan mengurusi urusan domestik sedangkan pria yang bekerja diluar rumah. Dan lama-kelamaan kita akan terbiasa dengan penggambaran seperti itu karena didalam kehidupan bermasyarakat pun kita diajarkan seperti itu.

Penelitian kedua menggunakan teori feminis postmodern dan perspektif budaya. Feminis postmodern adalah mengkritik bahwa adanya cara berfikir laki-laki yang diproduksi melalui bahasa laki-laki. Penalaran yang mereka terapkan hanya pada investigasi bahasa. Mereka juga menolak cara berfikir feminis yang fanatik/ tradisional. Dan mereka juga menekankan intrepretasi yang plural dalam kajian perempuan. Mereka mengatakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan harus diterima dan dipelihara. Mereka berusaha membongkar narasi-narasi besar, realitas, konsep kebenaran dan bahasa. Ada beberapa langkah yang ditawarkan untuk menstrukturkan pengalaman perempuan dalam dunia laki-laki, yaitu : perempuan dapat membentuk bahasanya sendiri, perempuan dapat membuat seksualitasnya sendiri, dan ada usaha untuk menyimpulkan dirinya sendiri (Undo diskursus phallosentris).

Penelitian yang berjudul “The Sexual Objectification of Women in Advertising: A Contemporary Cuiturai Perspective” ini mencoba membedah bagaimana tanggapan wanita berpendidikan dalam melihat eksploitasi tubuh wanita dalam iklan dengan menggunakan feminis postmodern yang beranggapan bahwa seksualitas adalah kekuatan wanita itu sendiri, ditengah budaya yang seperti itu apakah wanita berpendidikan juga bahkan tidak peduli dengan ketidakadilan seperti ini. Oleh sebab itu penelitian ini dibedah pula dengan perspektif budaya dimana merupakan sebuah bangunan teori yang dihasilkan para pemikir yang menganggap produksi pengetahuan teoritis sebagai suatu praktik politis. Budaya  itu sendiri merupakan bentuk-bentuk kontradiktif akal sehat yang sudah mengakar pada dan ikut membentuk kehidupan sehari-hari (Hall, 1996: 439).

Menjadi sangat menarik dalam penelitian kedua ini dimana ada sebuah ketidakadilan dalam gender dalam hal ini adalah pengeksloitasian tubuh wanita sebagai objek seksual lalu mempertanyakan tanggapan konsumen itu sendiri terhadap seksualitas dalam iklan tetapi konsumen itu berada dalam budaya yang memang sudah tidak asing lagi dengan seksualitas yang ditampilkan dalam media.

Metode yang digunakan dalam kedua penelitian adalah kuantitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data yang sama yaitu sample dengan menentukan karakteristik sample terlebih dahulu dengan pengkodean berupa pertanyaan-pertanyaan dan pengkodean produk-produknya. Selanjutnya membandingkan hasil penelitian sebelumnya dengan penelitian yang sedang dilakukan. Tahap terakhir adalah setiap peryataan akan dikodekan dalam bentuk angka.

Temuan dari penelitian pertama “Gender portrayals in food commercials: A content analysis of Spanish television advertisements” perempuan masih dijadikan obyek penarik dalam iklan. Iklan-iklan di televisi kebanyakan masih mengekspos keindahan perempuan dan bahkan cenderung mengeksploitasinya. Pembagian peran gender tradisional di masyarakat juga diperkuat oleh citra yang dibentuk dalam iklan dimana peran perempuan lebih sering digambarkan berada di sektor domestik sementara peran laki-laki bekerja di luar rumah sedangkan penelitian kedua “The Sexual Objectification of Women in Advertising: A Contemporary Cuiturai Perspective” menemukan bahwa pandangan konsumen wanita pun ternyata tidak terlalu menganggap bahwa ada permasalahan ketika wanita dijadikan objek seksual dalam iklan karena mereka memang berada dalam budaya yang tidak mempermasalahkan tentang seksualitas sehingga mereka menganggap hal itu menjadi tidak perlu dipermasalahkan tetapi mereka jadikan seksualitas sebagai kekuatan wanita seperti paham feminis postmodern.

 

Kesimpulan dari penelitian pertama oleh Eva Espinar-Ruiz dan Cristina González-Díaz (2012) yang berjudul “Gender portrayals in food commercials: A content analysis of Spanish television advertisements” dan penelitian kedua oleh Amanda Zimmerman dan John Dahberg (2008) dengan judul “The Sexual Objectification of Women in Advertising: A Contemporary Cuiturai Perspective” yaitu media khususnya iklan adalah alat pelanggeng sekaligus pengkonstruk peran gender tradisional dalam masyarakat. Serta alat pengeksploitasi tubuh wanita yang dijadikan sebagai objek seksual dalam sebuah produk iklan komersil. Konstruksi budaya dan konstruksi media dalam masyarakat sangat jelas terlihat kuat dilihat dari penelitian kedua yang meneliti pada pandangan konsumen itu sendiri tentang ketidakadilan gender ini bahwa mereka pun ternyata tidak mempermasalahkan ketidakadilan gender yang terdapat dalam media ini karena faktor budaya mereka pun yang sudah mengamini bahwa hal itu adalah biasa.

Artinya disini penulis mencoba mengambil benang merah dalam sebuah kalimat “media adalah dewa pelanggeng dan pencipta, kuasa media ditangan penggendali para pemilik modal. Media mencipta “A” maka media pulalah yang bisa membuat “A” menjadi “Z” ” lalu apa yang bisa dilakukan konsumen selain “jadilah konsumen yang cerdas”.

 

Daftar Pustaka

Espinar-Ruiz, Eva dan Gonzalez-Diaz, Cristina. 2012. “Gender portrayals in food commercials: A content analysis of Spanish television advertisements”. Dalam Jurnal. Tersedia: http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CC0QFjAA&url=http%3A%2F%2Fobs.obercom.pt%2Findex.php%2Fobs%2Farticle%2Fdownload%2F586%2F540&ei=B6-EUrrrCoaRrAfr_YAo&usg=AFQjCNG1IIKdIGhGNSeYbQzd7sQtN2e8SA&bvm=bv.56343320,d.bmk . [12 November 2013 ]

Zimmerman, Amanda dan John Dahberg. 2008. “The Sexual Objectification of Women in Advertising: A Contemporary Cuiturai Perspective”. Dalam Jurnal.  Tersedia : http://pure.au.dk/portal/files/10594/8_-_sexual_objectification_of_women.pdf. [1 Januari 2014]

 

sekilas pandang ketidakadilan gender

” …ketika kamu merasa ada masalah dalam hidupmu karena perbedaan gender maka disitu telah terjadi ketidakadilan gender”

apa yang menyebabkannya? Karena sesungguhnya tidak semua orang tahu bahwa telah terjadi ketimpangan dalam kehidupan kita, ketimpangan antara perempuan dan laki-laki, ketimpangan karena kita yang membiarkannya sebelum kita tahu bahwa ketimpangan itu masih bisa kita perjuangkan untuk sekedar bisa bernafas bebas menyadang nama perempuan ataupun laki-laki sebagai diri.

Ketidakadilan gender bisa kita ketahui apabila kita benar-benar melihat dan membaca. Saya teringat sesuatu “ jangan merasa pintar hanya dengan sedikit informasi” dan saya sedang melakukan hal yang dinamakan “SOK TAU”. Jadi tidak ada alasan bagi kamu percaya kepada saya secara menyeluruh tentang apa yang akan saya tulis disini, karena kebenaran adalah keyakinan silahkan yakini apa yang sedang anda benarkan.

Jadi ketidakadilan gender dilihat dari manifestasi ketidakadilan gender :
1. Gender dan Marginalisasi Perempuan
Marginalisasi atau proses pemiskinan secara ekonomi, bisa menimpa kaum lelaki dan perempuan atau kaum lelaki atau kaum perempuan. Artinya kedidakadilan ini memang bisa terjadi secara bersamaan pada kaum lelaki dan perempuan sebagai manusia ataupun kaum lelaki dan perempuan sebagai status yang mereka pegang. Berkaitan dengan gender berarti ada salah satunya dirugikan dimiskinkan dari yang lain, kalo sama ya tidak ada masalah bukan. Dimana letak ketidakadilannya?
Kita ambil contoh kasus seorang perempuan yang menurut agama adalah laki-laki yang menjadi pemimpin yang mencari nafkah otomatis ruang gerak perempuan untuk bekerja diluar rumah semakin sedikit sehingga menyebabkan pemiskinan bagi s perempuan, dan lagi oleh asumsi ilmu pengetahuan yang beranggapan bahwa ilmu ini tidak cocok bagi perempuan katakanlah tekhnologi banyak pekerjaan yang berhubungan dengan tekhnologi itu dilakukan oleh pria karena dianggap itu memang pekerjaan pria, perempuan itu tau apa tentang tekhnologi berarti kaum perempuan yang dirugikan sebalikya dalam pekerjaan penelitian justru lebih banya pekerja perempuannya karena apa? Karena perempuan itu dianggap telaten, sabar, cermat, teliti nah berarti laki-laki pun dirugikan karena banyanyak laki-laki yang teliti dan cermat juga. Ini adalah sebuah pemiskinan.
Marginalisasi adalah sebuah pemiskinan yang dilanggengkan oleh agen gender, siapa? Kita. Melalui banyak cara tafsir agama bisa jadi alasannya ataupun adat istiadat.

2. Gender dan Subordinasi
Aggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting.
Biasanya ketidakadilan ini bisa dilihat dari kursi di kepemerintahan yang didominasi oleh kaum laki-laki sedangkang perempuannya masih sedikit, dan lagi masih Ingatkah kalian tentang istilah yang diberikan pada perempuan “ kasur, dapur, sumur” . tahukah hal itu mengandung banyak arti ketika kita paham tahukah karena istilah itu kita diremehkan? Tahukah karena istilah itu kamu seperti keset yang bisa diinjak-injak? Tahukah karena istilah itu kita hanya sebagai objek? Tahukah istilah itu bisa kita musnahkan? Nukan oleh saya tapi kita dengan perjalanan yang sulit dan panjang karena kita menantang sistem dalam masyarakat.
Subordinasi “ ngapain sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya jadi ibu rumah tangga juga, toh akhirnya di dapur juga, toh akhirnya jadi pelayan suami dan anak juga” oleh sebab itu terjadi pemilihan prioritas dalam pendidikan dikeluarga, misalkan ada anak perempuan dan laki-laki dalam keluarga yang kondisinya pas-pasan maka pendidikan untuk laki-laki dululah yang diutamakan sedangkan perempuan dikesampingkan. Bukankah itu sebuah ketidakadilan karena gender?

3. Gender dan stereotip
Pelabelaan atau penandaan terhadap suatu kelompok itulah stereotip. Sayangnya saya belum pernah mendengar dampak baik dari stereotip yang memang dasarnya adalah meregikan kelompok tertentu. Contohnya saja saya kalau berdandan pasti disangka mau mencari perhatian lawan jenis, kemudian ganjenlah, centilah, murahanlah akan menempel pada pada perempuan yang suka berdandan sebagai labelnya. Padahalkan hak kita untuk berdandan karena ada banyak wanita yang beranggapan bahwa dia berdandan adalah bentuknya untuk mengatakan pada dunia bahwa saya cantik dan blablabla, ada pula karena kesehatan takut mukanya kebakar mungkin, ntahlah banyak alasan kenapa seorang wanita itu berdandan. Tapi tetap saja yang diberi label ya wanita penggoda kalau ada pemerkosaan ya salah si perempuan suruh siapa pakai baju seksi terus kalau dia berkerundung tapi masih diperkosa juga masih kita menyalahkan perempuan karena apa yang dipakainya?

4. Gender dan Kekerasan
Kekerasan biasanya secara fisik, tapi sayang kekerasan nonfisik (berupa verbal maupun nonverbal) pun banyak terjadi, seringkali terjadi malah.
Sangat jarang seorang istri memukuli suaminya sampai mati, sangat jarang loh bukan berarti tidak ada, ada tapi jarang. Karena kita lebih sering menjumpai seorang suami memukuli istrinya karena tidak mau diajak berhubungan intim (ini namanya kekerasan double) kenapa, istri memang wajib melayani suami, tapi kalau secara terpaksa ya itu namanya pemerkosaan ( istri mempunyai alasan yang jelas) belum lagi di pukuli, yang jelas itu merupakan tindak kekerasa, bisa ditambah lagi oleh omongan “ kamu itu seorang istri yang tugasnya ngelayanin saya, dasar wanita jalang dan omongan kasar lainya itu merupakan kekerasan non fisik.
Atau berupa larangan seorang istri untuk melanjutkan studynya “ sudahlah toh kamukan tugasnya ngurusin anak, ngapin sekolah lagi” ini juga kekerasan
Atau seorang istri sedang hamil dan dia tetap mau bekerja suaminya melarang mau dengan cara lembut ataupun kasar jika sang istri merasa ini masih tidak adil walaupun dengan proses penalaran ini demi kesehatan tetap saja ini merupakan kekerasan kecuali proses penalaran itu diterima dan dari yang tadinya menolak menjadi mengiyakan saya tidak bekerja sewaktu hamil karena demi kesehatan maka itu bukanlah sebuah kekerasan.

5. Gender dan Beban Kerja Ganda
“kasur , dapur, sumur” beban kerja inilah yang ditanggung oleh perempuan dapur dan sumur. Memasak, mengepel, sapu-sapu, nyuci, mengurusi anak itu dibebankan kepada perempuan padahalkan laki-laki pun bisa melakukan hal itu tetapi seakan-akan tugas itu ya tugasnya perempuan. Memangnya yang rumah tangga perempuan doang?
Laki-laki merasa tidak bertanggung jawab atas tugas domestik, tugasnya ya hanya mencari uang diluar rumah sampai rumah dialah rajanya. Sedangkan apabila perempuan juga bekerja diluar dan ketika kembali kerumah ya dia tetap bekerja berapa berat beban kerja yang ditanggung oleh perempuan.

  • “…Merasa adil dengan perbedaan gender? Selesai.”
  • sekilas pandang sex dan gender

    dalam rangka UTS makanya saya tulis, kalau enggak UTS saya berarti gak ngambil gender. sayangnya saya ngambil gender jadi saya tulis.

    KOMUNIKASI GENDER PART I

    Gender “pembagian peran di ranah sosial” , sebuah kalimat yang akan terlontar dari mulut kita ketika ditanya apa itu gender. Selanjutnya, pertanyaan umum lagi yang sering dilontarkan adalah “ apa bedanya sex dan gender?” dan kita pun akan menjawab “ bedanya sex itu adalah kodrati dan gender adalah ciptaan” . pasti kita akan bertanya lagi bedanya kodrati dan ciptaan itu apa? Dan saya akan menjawab dengan seinci pemahaman saya terkait hal ini.

    Sex itu adalah kodratnya manusia yang dibuat oleh Sang Pemilik ( Tuhan yang kita amini bersama) telah membedakan manusia yang kita sepakati bersama bahwa itu adalah perempuan dan laki-laki. Hal itu bersifat kodrati karena tidak bisa dipertukarkan kecuali melakukan transseksual yang akan melahirkan transgender (operasi kelamin mempengaruhi peranannya dimasyarakat) yang artinya dia meyalahi kodratnya sebagai ntah itu perempuan ataupun laki-laki, oke wait saya tidak akan membahas bagian ini terlalu jauh, tetapi pada dasarnya “SEX TIDAK BISA DIPERTUKARKAN”. Bagaimana cara kita mengetahui bahwa itu adalah sebuah kodrat? Bisa kita lihat dari Perbedaan secara fisik atau secara biologis seperti perbedaan jenis reproduksi. Wanita ( mempunyai ovum untuk hamil dan tentunya harus dihamili dulu oleh suami yang berbentuk pria karena dia mempunyai sperma) wanita payudara untuk menyusui sedangkan pria walaupun punya payudara yang rata ataupun sedikit mengembang karena faktor berat badan tetap saja tidak bisa menyusui. Dan lagi bisa dibedakan dari fisik sesuatu yang tampak yaitu suara, bentuk tubuh, jenggot, berkumis, jakun, dan lain-lain yang merupakan fakrtor biologis.

    Sekarang kita akan membahas tentang gender

    Gender itu adalah ciptaan. Siapa yang menciptakan? Kita, manusia. Siapa yang mewariskan? Kita, manusia. Siapa yang melanggengkan? Kita, manusia yang mempunyai alat yaitu media. Kenapa kita tidak merasa itu adalah sebuah bentukan melainkan pemberian dan memang seharusnya seperti itu peran perempuan dan laki-laki di lingkungan sosial. Tidak, bukan seperti itu ketika kamu mulai tahu apa itu gender.

    “Gender merupakan suatu sifat yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi melalui sosial dan kultural” Jelas itu bukan perkataan saya, ntahlah ini tertuang dibuku yang saya baca. Apa maksudnya? . ketika ada orang berbicara “ jadi cowo tuh harus kuat, gak boleh cengeng, harus ini dan itu” kalau dalam cerita pewayangan ya idealnya seorang pria adalah “ARJUNA” gagah perkasa dan wanita itu harus lemah lembut, jalannya rapat, sensitif, dan kawankawanya kalau dalam mengikuti dongeng mungkin dialah “shynta”maka terjadilah konstruksi nilai dan harga dari seorang perempuan dan laki-laki dalam masyakat. Lebih mudah jika digambarkan.

    Orang-orang berkumpul membentuk kelompok masyarakat didalamnya ada nilai dan norma yang disepakati bersama (termasuk peranan perempuan dan laki-laki dalam masyarakat) –> nilai diturunkan dengan proses yang panjang (contoh terkecil adalah dalam keluarga yang anak perempuan dan laki-lakinya dididik berbeda) –> munculnya keyakinan bahwa itu adalah sebuah pemberian dari Tuhan –> ketika ada ketidakadilan karena gender tetapi kita diam saja karena meyakini bahwa itu adalah pemeberian dari Tuhan maka disitulah masalahnya.

    Padahal kalau kita berkaca, yang namanya sifat itu bisa dipertukarkan ( ada perempuan yang kuat, ada laki-laki yang cengeng, ada perempuan yang maskulin dan banyak pula laki-laki yang feminim) masih ada alasan kita menyebutkan bahwa sifat adalah kodrat?

    “ kuncinya ketika itu kodrat maka hal itu tidak bisa dipertukarkan, selama itu bisa dipertukarkan berarti itu adalah hasil dari konstruksi sosial maupun kultural”

     

    Makna Hidup oleh Alunan Perkusi “Kang Daong”

    Makna Hidup oleh Alunan Perkusi

    “Menjadi orang baik tidak selalu harus berada didepan, tetapi harus mampu berada disamping siapa saja yang membutuhkan kita”

    Darmawan Sulistiyanto

    Tempat / tanggal lahir            : Purwokerto, 17 Maret 1970

    Pendidikan                  : SD Purwokerto Kidul

    SMP 8 Purwokerto

    SMA 1 Purwokerto

    Administrasi Negara Fisip Unsoed

    Pekerjaan                    : seniman perkusi sampai mati

     

    Oleh Kiki Fabia Rahmi

    Tak banyak orang memilih menjalani hidupnya dengan apa yang dia suka, tak banyak orang menjalani pekerjaannya dengan apa yang dia mau, tak banyak orang memilih pilihan hidup antara mimpi dan hidup sebenarnya, dan tak banyak orang bisa mengambil resiko dari sebuah pilihan dalam hidup kemudian bertahan dan melawan ketidakmakmurannya, seperti Darmawan Sulistiyanto (43). Kang Daong, nama yang biasa kami sebut untuk memanggilnya, dia diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya, dia diberi kesempatan untuk menikmati resiko yang akan diterimanya dalam memilih jalan hidupnya. Dimulai dari kecintaannya pada seni, berlanjut pada trauma masa lalu sang ibunda disusul kemudian pelaranngan dirinya utnuk menjadi seniman, membuatnya mennghadapi musuh terbesarnya yaitu dirinya sendiri, dengan pergulatan batin dirinya untuk menghadapi pilihan hidupnya, suara sumbang orang sekitar menjadi bumbu yang tak mudah untuk diratakan dalam hidupnya, semua itu mengantarkannya pada perkusi, perkusi itu mengantarkannya pada makna hidup yang sebenarnya, makna hidupnya, makna dari sebuah pilihan, makna dari sebuah resiko dan makna kebahagiaan yang sederhana.

    Trauma Masa Lalu       

    Sosok Kang Daong yang saya temui di suatu malam, pekan lalu, penuh daya hidup. Wajah tirusnya yang menampakan senyum membuat kasih bertebaran diaula fisip yang kini telah disulap mejadi panggung pementasan dan ramai oleh alunan musik teater sianak yang sedang latihan untuk pentas nanti. Binar matanya dipenuhi oleh rasa yakin atas kebenaran hidupnya, alunan suaranya saat bicara menuntun saya pada pergulatan dalam hidupnya. “ ini trauma masa lalu” ujarnya.

    Trauma masa lalu sang ibunda menjadi pagar berduri untuknya. Ketika sang ayah adalah pemain keroncong yang tidak lulus sekolah pantaslah seorang ibu mengkhawatirkan anaknya akan bernasib sama dengan orang tuanya jika ia memilih untuk menjadi seniman di kemudian hari ketika dia dewasa. Sayangnya, sang ayah, setiap malam sebelum dia terlelap dalam tidur kecilnya selalu didongengi lakon goro-goro wayang, setiap malam selama bertahun-tahun semenjak dia kecil. Hal ini justru menjadi pupuk yang subur atas bibit seni yang selama ini mengalir ditubuhnya.

    Perjuangan Kang Daong dimulai saat itu. dimulai sejak kecil, dia menjadi pemain bass dan drum, walaupun sempat terhenti di SMP karena dia lebih lebih tertarik dengan organisasi sekolah seperti pramuka, tetapi darah seninya tetap bergejolak membuatnya mengikuti ektrakulikuler karawitan sewaktu SMA. Tibalah hari dimana ada yang merubah hidupnya secara jungkir balik, ketika dia masuk ke perguruan tinggi Universitas Jendral Soedirman Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, beliau terjun kedunia Teater, yaitu teater SiAnak. Lalu berkesenian menjadi seniman perkusi manggung dari panggung ke panggung akhirnya terbongkar di mata orang tuanya maka pertempuran batin itu mulai pada puncaknya. Dengan sorot mata yang memulai menajam alunan suaranya masih terkendali tidak ada emosi yang bergejolak saat dia menceritakan hal itu.

    Ketika ditanya menyoal bagaimana respon orang tua saat mengetahui dirinya berkesenian, dia mulai tersenyum penuh makna, kemudian dia mulai menjelaskan “ hidup itu pilihan, setiap pilihan mengandung resiko, permasalahannya adalah siap terima resikonya gak kalau ngambil pilihan itu? siap didiemin selama tiga tahun gak karena ngambil pilihan yang gak sejalan dengan kehendak orang tua?” ungkapnya dengan senyum yang mewarnai gemuruhnya malam itu.

    Itulah segelintir alasan kuat kenapa dia harus bersembunyi-sembunyi dalam berkesenian, tentu saja tak dapat dipungkiri bahwa didalam darah saudaranya juga mengalir darah seni, hanya saja mereka lebih patuh akan kuasa ibu lalu pada akhirnya mereka hanya menjadi penikmat musik saja, tidak seperti jalan yang telah diambil seorang Darmawan sulistiyanto yaitu menjadi seniman perkusi, menjadi pemain bukan hanya penikmat.

    Bergulat dengan pilihan

    Ketika keluarga mengetahui bahwa dia memilih berkesian menjadi profesinya dia dihadapkan  dengan pilihan hidup, bukan berarti dia tidak pernah goyah oleh suara minor yang didengarnya, dia pun bukan superhero yang dalam sekejap bisa menentukan hidupnya utnuk fokus menjadi seniman perkusi, butuh sepuluh tahun dia bergulat dengan pemantapan pilihannya, butuh sepuluh tahun dia bergulat dengan pemaknaan arti kemapanan bagi hidupnya. Arti kemapanan yang mereka sepakati berdasarkan materi menjadi cambuk baginya untuk mengadapi pergolakan batin untuk memilih pilihan. Apakah dia mampu bertahan hidup dengan menjadi seniman perkusi? apakah dia siap dikucilkan orang sekitar? apakah dia siap diremehkan oleh orang sekitar dengan arti kemapanna versi mereka? Benar versi mereka. Disinilah permasalahannya muncul, perbedaan pemaknaan kemapanan antara dirinya dan keluarga serta lingkungannya sendiri menjadi beban berat untuknya memilih perkusi sebagai profesinya karena mereka menganggap pemain perkusi itu kere, sayangnya kang Daong cukup cerdas dalam mengambil keputusan untuk sebuah pilihan.

    Ada alasan kenapa dia memilih berkesenian, ada alasan kenapa dia memilih mengambil resiko ini dan ada alasan kenapa dia memilih menjadi seniman perkusi. Tak lain dan tak bukan adalah karena dia melihat kondisi Indonesia zaman sekarang yang sudah banyak orang melupakan kesenian tradisionalnya, bisa dihitung dengan jari seniman perkusi di Indonesia, apalagi di Banyumas, selain dia bisa menyalurkan hasrat berkeseniannya dia juga bisa mendapatkan rizky dari perkusi, tidak munafik sebagai manusia kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup hanya saja definisi uang seperti apa yang kita maknai, definisi kemapanan seperti apa yang kita pegang.

    “sekedar cukup itulah makna kemapanan bagi saya” ujarnya. Dia tidak kehilangan arah ketika tidak ada seorangpun yang menyuruhnya manggung, dia mengembangkan dirinya melalui berbagai celah yang orang lain anggap remeh. Pengalaman organisasinya semenjak sekolah mengantarkannya pada rizky yang diberikan oleh Tuhan melalui tangan organisasi di sekolahan seperti menjadi pelatih pramuka atau pecinta alam, belum lagi dia belajar merajut dan menjahit. Tidak ada batasan umur untuk belajar. Dia akan belajar apapun yang sekiranya bisa dia lakukan, dia tidak mandeg hanya dengan menjadi seniman perkusi yang menurut mereka tidak menghantarkan pemainnya untuk mencapai kemapanan hidup. Jangan merasa bisa tapi bisa merasa, perkusi sampai mati, rezeky bisa datang dari apa yang kita bisa, apa yang bisa dia lakukan maka dia akan melakukannya.

    Kemapanannya menurutnya tercermin dari semua alat perkusinnya, hampir separoh penghasilan dari manggungnya diberikan untuk alat perkusinya yang sudah dijadikannya sebagai istri, ntah itu dibuat baru atau memperbaiki yang rusak karena menurutnya “penghargaan terhadap diri sendiri tercermin dari alat yang kamu pakai” . Tetapi menurut kesepakatan mereka kemapanan adalah ketika kamu bergelimang harta dengan pekerjaan yang tetap yang kamu miliki, dan seniman itu tidak bekerja yang berarti tidak punya kemapanan hidup. Orang lain banyak bertanya ketika dia keluar di pagi hari dari rumahnya, kenapa dia tidak bekerja jawabnya hanya dengan senyuman dan kenapa dia pulang selalu sampai larut malam pun hanya dijawab dengan senyuman, sampai pada akhirnya ketika orang sekitar melihatnya manggung disebuah acara barulah mereka mengerti apa yang dia kerjakan, seperti ketika dia mengeluarkan semua alat perkusinya untuk dijemur barulah mereka tahu bahwa dia adalah seorang seniman, sayangnya hanya sekedar tahu dan tidak mengerti kemudian dicibir lagi ketika dia tidak mendapatkan hari untuk manggung.

    Katanya ketika hal itu terjadi maka sekeluarga didalam rumahnya akan menasehatinya lagi dengan berbagai macam alasan kemapanan, hanya saja dia hanya diam. Kenapa dia harus diam, kenapa dia tidak melawan, pertanyaan itu muncul dibenak saya dan dia hanya tersenyum ketika saya melontarkannya. Katanya dia hanya akan melakukan satu hal yaitu diam, karena dengan diam orang lain akan berpikir sebenaranya kenapa alasan dia diam. Hal ini terus diterapkannya jikalau dia dan keluarga sedang tidak harmonis. Tapa meneng menjadi solusi dan jalan keluar yang paling efektif, filosofi orang jawa ini menjadi pegangan hidupnya, ketika yang dibicarakan itu tidak penting maka dia tidak akan bicara. dengan begitu akan mengundang banyak tanya orang sekitar dan mencoba untuk memahaminya bukan sekedar untuk menceramahinya.

    Butuh waktu sepuluh tahun lebih untuknya memantapkan dan fokus terhadap perkusi karena hal diatas itu. penuh pergolakan dan pergulatan batin didalamnya. Penuh dengan tanya arti hidup baginya. Penuh dengan pilihan dan resiko. Dia mengambil resikonya dia menikmatinya dia Darmawan Sulistiyanto sang seniman perkusi. Karena kebahagiaan itu sederhana, adalah ketika dia menggunakan tangannya untuk bermain perkusi, bukan hanya persoal mencari uang. Tapi bagaimana pilihan cerdas itu mengantarkannya untuk mendapatkan keduanya. Walaupun dikata tidak “mapan” oleh mereka.

    Menyatakan Bahwa Diri Ada dan Dianggap Ada

    “kamu ada dan kamu berharga” awalannya ketika dia berbicara tentang hidup. Banyak perkataannya yang ingin saya kutip disini, sayangnya malam terlalu gelap untuk menuliskan semua perkataan bijak darinya. Kamu ada dan kamu berharga. Baginya orang berfisik seperti dirinya yang kurus, sudah tua, hitam dan memakai kacamata, tidak ada jalan lain kecuali memiliki kemampuan yang orang lain tidak miliki, sudah seperti kewajiban bagi kita untuk menunjukan diri kita dengan apa yang kita bisa karena membuat kamu dianggap ada itu sesuatu yang penting, menghargai diri kamu itu adalah sesuatu yang penting, dimana pun kamu berpijak buatlah dunia tahu siapa kamu dengan kemampuan kamu. Seperti dia yang mungkin tidak akan pernah dilihat oleh orang lain jika dia tidak menjadi seniman perkusi walaupun banyak pihak masih ada yang meremehkannya, tapi bagi mereka yang paham apa itu seni maka proses penghargaan yang tinggi akan diberikan banyak orang bagi dirinya.

    Teater mengantarkannya pada pemaknaan hidup, perkusi mengantarkannya pada arti dari sebuah kebahagaian yang sederhana, orang tua mengantarkannya pada sebuah pilihan yang membuatnya kini mejadi orang yang hebat.

    Dia belajar meditasi di teater untuk mengolah rasa, mengendalikan rasanya mengatur emosinya sehingga dia bisa menetralisir tekanan-tekanan yang keluar dari suara sumbang orang sekitarnya, dia tidak pernah berhenti menelusuri makna hidup yang sesungguhnya yang kemudian mengantarkannya pada filosofi-filosofi orang tua, bagaimana mereka bisa bertahan hidup seorang diri. Dia tidak pernah berhenti belajar yang mengantarkannya pada banyak buku filsafat dan psikologi, bagaimana cara mengolah optimisme diri. Sepuluh tahun dia mengolah optimisme diri, sepuluh tahun dia berkelana seorang diri mencari makna hidup, sepuluh tahun dia bergulat dengan dirinya, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencapai pada pilihan hidupnya. Lalu kemudian.

    “perkusi mengantarkan saya pada pemaknaan hidup dimana menjadi orang baik tidak selalu harus berada didepan, tetapi harus mampu berada disamping siapa saja yang membutuhkan kita”

    Dia menyanggah kalau dia masih berjiwa muda, dia melontarkan pembenaran jikalau dia hanya pandai untuk memposisikan tempat dimana dia berada dan bagaimana dia harus berprilaku tetapi sampai sekarang saya masih menganggapnya berjiwa muda.

    Dan seperti itulah kang daong yang saya kenal dengan pipi tirusnya dan senyum hangatnya mengatarkan kita belajar arti hidup yang sebenarnya, melalui perkusi dia hidup menghidupi hidup yang sebenarnya atas dirinya dan orang sekitarnya.