ketika

ketika beranjak tua adalah sesuatu yang tak bisa terelakkan dan menjadi dewasa katanya adalah sebuah pilihan

dan ketika serangkaian keriput yang tak bisa dielakkan terbentuk dalam sebuah paras yang sedang menatap cermin ini maka menjadi dewasa untuk menentukan pilihan dari berbagai macam fase kehidupan adalah sebuah pilihan dari perjalanan kehidupan yang mengantarkanmu pada sebuah ruangan tentang kenangan

ketika kita memasuki sebuah ruangan tentang kenagan maka berjuta kerinduan menyambut dalam hangatnya pelukan, betapa sudah lama kita tidak berbincang dalam lautan kebahagian pun dalam daratan kepedihan

ketika waktu terus berputar kedepan tetapi memori tetap merangsek menarik kebalikan, kerinduanpun takan pernah terpenjarakan, mari sejenak bersemayam dalam nyanyian sumbang tentang sebuah pengharapan untuk tidak pernah dilupakan.

sebuah perjalanan dan ketika

30 hari menulis ini berakhir

setidaknya dalam kurun waktu itu aku ada

Advertisements

penghakiman!

dasar si lancang jalang!

buih sudah ucap yang kau lontarkan,  busukmu tak kuasa terbendung dalam hisapan, berkata yang tak patut demikian dililit oleh selubung penghakiman.

selamat malam, saya hanyalah seoonggok pikiran dari si jalang yang lancang atau si lancang yang jalang. beginilah nasib sebuah celotehan yang lahir karena sebuah penghakiman. terlalu mengagungkan sebuah kotakan pikiran yang cenderung menyusahkan.

hanya ingin menyampaikan sebuah perkataan kepada kalian para hakim yang menghakimi si lancang jalang hanya karena melihat satu buah sudut yang dianggap menjijikan kemudian langsung menyimpulkan mereka adalah sebuah kesialan, tak bermakna apalah hidup yang seperti itu kemudian tertawa dalam sebuah penghakiman tentang kehidupan seseorang.

mari melihatnya dari kedekatan, berharap tidak akan buram dalam menerjemahkan tentang sebuah kehidupan dan penghakiman.

seorang telah lahir dengan sebuah Kuasa, yang kemudian dia mempunyai kuasa dengan tetap dibawah kuasa sang Penguasa, dan lalu seseorang yang lain lahir karena sebuah kuasa, yang kemudian dia mempunyai kuasa dengan tetap dibawah sang Penguasa yang sama dengan seorang yang lahir pertama, kemudian seseorang yang lainnya lagi lahir karena sebuah kuasa, yang kemudian dia mempuanyai kuasa dengan tetap dibawah Penguasa yang sama pula.

lihatlah, dalam kuasa yang sama mereka berdiri dilangit yang sama berlomba untuk menjadi yang berkuasa, halallah mereka bertingkah seperti itu dan mencoba untuk menilai tingkat kekerdilan atau kekuatan yang lainnya bahkan sebuah penghakimanpun akan muncul pada permukaan ketika yang lain mencoba jalan yang berbeda.

bodoh !

mari perhatikan setiap diksi yang ingin kutuliskan, ingat ini hanyalah seonggok pikiran si jalang lancang,

setiap jalan mempunyai rambunya, mempunyai nilai kecepatannya, mempunyai arahnya dan kau tidak bisa menyalahkan si pengemudi ingin memutar ke kanan terlebih dahulu atau ke kiri, dengan alasan yang sangat sederhana yaitu kuasa. dengan kuasa yang sama haram bagimu menghakimi dan apakah ketika memiliki kuasa yang berbeda menjadi halal untuk menghakimi, silahkan ketika kau bisa berkaca pada dirimu apakah pantas untuk menghakimi.

sebuah hakim agung saja harus dijanjikan sebuah kemuliaan atau kesengsaraan atas sebuah penghakimannya. dan kau kalian mereka sangat mudah menghakimi, baiklah hidup ini memang sulit. sulit menjadi ingat bahwa kita adalah sama yang berbeda adalah sebuah pilihan untuk menjadi tidak sama.

pilihlah

lupakan

atau

ingat

sebuah pemikiran dari si lancang jalang

selamat malam

sebuah malam

aku bersandar pada sebuah kotak atau lingkaran aah mungkin itu segitiga, ntahlah yang jelas bentuknya menampakan kerapuhan dalam manusia, sebuah rasa dimana hanya hadir ketika kamu beranjak ‘dewasa’ katanya.

aku tak ingin menceritakannya ketika hari sudah malam, tapi hanya inilah kesempatan dimana sebuah ingatan masih belum terlupakan. aku akan menceritakannya mungkin dengan sebuah sentuhan yang menjijikan, seperti sebuah rabaan yang hadir hanya ketika malam yang memiliki kesempatan.

kataku pada sebuah hati yang memanas dan menggebu, ketidakpercayaan atas apa yang dirasa dalam sebuah malam yang kaku karena begitu dingin oleh perasaan yang hadir dari ketidakpercayaan melihat kenyataan.

tentu saja aku tidak bisa mencaci pun meminta sebuah sanksi

karena akulah yang bersandar pada sebuah bentuk benda ketika malam yang hadir karena kesempatan.

lupakan

ini hanya nyanyian sumbang dari pojok keletihan

dan selamat malam

secara utuh

kau ingin melihatku secara utuh, jangan lancang!

cobalah untuk tidak menunduk pada teriknya matahari

cobalah untuk meliarkan pikiranmu untuk menjadi cerdas

cobalah untuk tidak membungkam mulutmu yang menjadikanmu pecundang

cobalah untuk membuatmu tahu bagaimana cara untuk terbang

dan lihatlah dirimu secara utuh.

dan setelah itu, jangan lancang!

jangan sentuh seincipun dari ruas tubuhku

jika kau belum bisa melihatku secara utuh!

 

bagaimanapun jangan biarkan dirimu tunduk jika itu bukan atas kuasamu

pujalah dia yang ingin kau puja secara utuh !

 

tentang orang asing

aaah, kicauan itu mengantarkan aku untuk memikirkannya, memikirkan kembali diwaktu kami habiskan bersama, tidak terlalu benar untuk dikatakan kami dekat pun tidak salah untuk dikatakan kami berjalan masing-masing. seperti rel kereta api, kami saling berjalan sejajar beriringan, kadang dipersatukan dalam lintasan atau dipisahkan oleh sebuah belokan. nyatanya kami berada dalam satu ruangan.

aku hanya melihatnya secara utuh sebagai orang asing

seperti seorang asing yang tak pernah mengucap sebuah salam perkenalan atau sekedar sapaan, ya wakaupun terkadang kami saling memberikan senyuman canggung karena tetap saja kami saling mengetahui walaupun tak ada kata “hai” yang mulut kami ucapkan.  begitu saja, hanya begini, seperti air yang mengalir ntah itu perginya ke samudra lepas atau ke comberan.

aku hanya melihatnya secara utuh sebagai orang asing

setiap kata yang terlontar, setiap tatapan yang diberikan, setiap acuh yang tersampaikan hanya dengan tatapan datar sebuah paras dan atau punggung yang berbicara dengan kepala kaku yang tidak pernah mau menengok ke belakang.

aku hanya melihatnya secara utuh sebagai orang asing

tentang orang asing

“hai, aku berharap tidak akan pernah terlambat untuk memperkenalkan diri, tuan asing”