PEREMPUAN DAN LINGKARAN 3T (TINJAU, TELAAH, TINDAK)

#ini itu tugas Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat

Pendahuluan

Perempuan adalah lentera dalam sebuah ruang bernama rumah. Kita sering mendengar bahwa tugas perempuan hanya terwakili dengan 3 buah kata yaitu “Kasur, Dapur dan Sumur”. Kata-kata yang sangat pupuler dikalangan masyarakat ini membuat nasib perempuan hanya bertombak pada pendapatan sang suami. Kekerasan terhadap perempuan sering kita jumpai di masyarakat Indonesia. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang melanggar, menghambat, meniadakan kenikmatan dan mengabaikan hak asasi perempuan.

Tindak kekerasan di dalam rumah tangga (domestic violence) merupakan jenis kejahatan yang kurang mendapatkan perhatian dan jangkauan hukum.  Tindak kekerasan di dalam rumah tangga pada umumnya melibatkan pelaku dan korban diantara anggota keluarga di dalam rumah tangga, sedangkan bentuk tindak kekerasan bisa berupa kekerasan fisik dan kekerasan verbal (ancaman kekerasan).  Pelaku dan korban tindak kekerasan didalam rumah tangga bisa menimpa siapa saja, tidak dibatasi oleh strata, status sosial, tingkat pendidikan, dan suku bangsa.

Tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga merupakan masalah sosial yang serius, akan tetapi kurang mendapat tanggapan dari masyarakat dan para penegak hukum karena beberapa alasan, pertama: ketiadaan statistik kriminal yang akurat, kedua: tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga memiliki ruang lingkup sangat pribadi dan terjaga privacynya berkaitan dengan kesucian dan keharmonisan rumah tangga (sanctitive of the home), ketiga: tindak kekerasan pada istri dianggap wajar karena hak suami sebagai pemimpin dan kepala keluarga, keempat: tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga terjadi dalam lembaga legal yaitu perkawinan. (Hasbianto, 1996).

Sebagian besar perempuan sering bereaksi pasif dan apatis terhadap tindak kekerasan yang dihadapi.  Ini memantapkan kondisi tersembunyi terjadinya tindak kekerasan pada istri yang diperbuat oleh suami.  Kenyataan ini menyebabkan minimnya respon masyarakat terhadap tindakan yang dilakukan suami dalam ikatan pernikahan.  Istri memendam sendiri persoalan tersebut, tidak tahu bagaimana menyelesaikan dan semakin yakin pada anggapan yang keliru, suami dominan terhadap istri.  Rumah tangga, keluarga merupakan suatu institusi sosial paling kecil dan bersifat otonom, sehingga menjadi wilayah domestik yang tertutup dari jangkauan kekuasaan publik.

Perempuan yang akhirnya hanya berkutat pada pekerjaan rumah tangga saja membuatnya tidak mandiri, ditambah dengan adanya kekerasan rumah tangga yang terjadi padanya membuat dia tidak punya pilihan lain selain menopang dirinya sendiri tetapi dampak kekerasan yang terjadi pada dirinya ini membuat dia tidak berdaya melakukan apapun, dia hanya akan bekerja secara sembarang yang penting dia mendapatkan uang. Hal ini lah yang mejadi salah satu keresahan untuk diadakannya pemberdayaan perempuan.

Pemberdayaan Perempuan adalah upaya pemampuan perempuan untuk memperoleh akses dan control terhadap sumber daya, ekonomi, politik, social, budaya, agar perempuan dapat mengatur diri dan meningkatkan rasa percaya diri untuk mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah, sehingga mampu membangun kemampuan dan konsep diri.

Didalam sebuah proses pemberdayaan pastilah kita akan melewati tiga tahap pemberdayaan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Sweeney, seperti sebuah perjalanan, yang dimulai dari satu titik dan berakhir pada titik yang lain. Untuk sampai pada titik tujuan maka orang harus bergerak ke arah yang tepat. Di sini orang memerlukan peta yang dapat memandu dan menunjukan arah yang harus ditempuh agar sampai ke tujuan. Dan itulah mengapa kita sangat membutuhkan 3T (Tinjau, Telaah, Tindak) dalam sebuah proses pemberdayaan.

Perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama masyarakat yang terkena dampak langsung dari pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu aturan atau suatu kecenderungan dari sifat manusia akan memiliki komitmen terhadap suatu keputusan apabila sejak awal terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan.

3T ini memang bagian dari proses perencanaan tetapi masalah yang dihadapi perempuan dalam hal ini korban tidak kekerasan menjadi sangat kompleks alhasil proses pemberdayaan pun akhirnya bertahap dan dibagi menjadi banyak aspek. Sehingga proses 3T menjadi sebuah lingkaran yang hanya tidak akan pernah putus walaupun pemberdayaan oleh fasilitator telah berakhir. Karena tujuan dari pemberdayaan adalah membuatnya mandiiri sehingga ketika terjadi permasalahan didalamnya mereka sendirilah yang melakukan 3T itu.

 Pembahasan

Korban perempuan KDRT biasanya memiliki sifat yang belum mapan dalam hal ekonomi bahkan seseoorang perempuan yang terpelajar dan mandiri secara ekonomi pun tetap dapat menjadi pribadi yang tidak mudah mengambil keputusan dalam menghadapi KDRT. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, yaitu Karena perempuan cenderung memiliki karakteristik individu (pasif, cenderung kecil hati dan tidak mampu mengambil keputusan). Peristiwa masa lalu yang membekas dan menghalangi bersikap asertif (trauma masa lalu yang belum terselesaikan dengan baik dan berpengaruh terhadap cara berpikir, merasa dan bertindak saat ini). Dan Keluarga berasal dari keluarga konvensional dan menekankan keutuhan rumah tangga sebagai hal yang paling baik (ideologi gender yang kaku).

Dampak yang akan diderita oleh perempuan korban KDRT biasanya dapat dibedakan dalam ”dampak segera” setelah kejadian, serta ”dampak jangka menengah atau panjang” yang lebih menetap. Dampak segera, seperti rasa takut dan terancam, kebingungan, hilangnya rasa berdaya, ketidakmampuan berpikir, konsentrasi, mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan. Mungkin pula terjadi gangguan makan dan tidur.

Begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi perempuan KDRT menyadarkan banyak orang untuk memperdayakannya.

Dalam sebuah perencanaan desain pelatihan harus dirancang berdasarkan analisis kebutuhan yang dilakukan secara partisipasif. Sehingga, dapat ditemukan fokus penelaahan kebutuhan dan potensi untuk masing – masing pihak. Atas dasar itu, proses interaksi pembelajaran dapat dilakukan melalui pendekatan 3T (Tinjau, Telaah , Tindak). Penggunaan 3T dalam memberdayakan perempuan korban tindak kekerasan menjadi wajib hukumnya walaupun memang benar 3T itu harus dilaksanakan dalam setiap pemberdayaan hanya saja dengan permasalahan yang sangat kompleks 3T menjadi tidak bisa dipisahkan dengan perempuan.

  1. Tinjau

Adalah proses pertama yang harus dilakukan dalam sebuah perencanaan 3T yaitu dengn melihat, mengamati dan memeriksa kondisi masyarakat secara langsung dengan harapan fasilitator akan mengenal dengan jelas apa yang terjadi di masyarakat dan akhirnya menetapkan tindakan yang tepat dalam sebuah pelatihan. Dalam kasus ini pada saat meninjau fasilitator bukan saja hanya melihat permasalahn dari luar kehidupan si korban melainkan mencari tahu permasalah yang terjadi lebih dalam kepada target yang akan diberdayakan. Karena jika fasilitator hanya melihat dari luar maka pemberdayaan yang terjadi juga hanya akan berupa pemberdayaan finansial, sedangkan perempuan tindak kekerasan juga membutuhkan pemberdayaan psikologisnya. Tinjau meliputi proses sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi kebutuhan untuk melihat sejumlah permasalahan yang dihadapi oleh perempuan korban KDRT.
  2. Mengidentifikasi potensi atau sumber daya yang ada untuk kepentingan pemenuhan dan pengembangan keterampilan.
  3. Memfokuskan pada tujuan dan jenis tugas atau bidang kerja yang dibutuhkan.
  4. Telaah

Adalah proses pengkajian terhadap hasil yang diperoleh dari tinjau, dimana didalam proses ini kita akan menghasilkan opsi-opsi pelatihan, menimbang dan memutuskan apa yang seharusnya dan sebaiknya titetapkan dalam sebuah pelatihan. Telaah menjadi bagian yang penting karena disini kita akan memutuskan sebuah pilihan dengan pertimbangan baik-buruknya pilihan itu. disini fasilitator dituntut untuk mengambil sikap. Telaah meliputi proses sebagai berikut:

  1. Menganalisis dan menetapkan prioritas masalah dan kebutuhan tugas
  2. Menganalisis berbagai kemungkinan pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan
  3. Menyusun rencana tindakan peningkatan kemampuan dan keterampilan kerja.
  4. Tindak

Adalah proses dimana kita sudah mendapatkan pilihan atau arahan dari hasil kita menelaah permasalahan di atas yang pada akhirnya kita sudah tahu bagaimana kita bertindak dalam proses pelatihan. Tindak adalah sebuah aksi nyata dari sebuah perencanaan. Tindak meliputi proses sebagai berikut :

  1. Memberikan sejumlah pengalaman baru ( administrasi, teknis; memberikan dukungan; kesempatan menyusun perencanaan)
  2. Mengajukan pertanyaan; Jelaskan tujuan dan sasaran; memberi kesempatan untuk melakukan penjualan kembali dan membuat kesimpulan
  3. Berikan cukup waktu membuat persiapan, memahami dan menentukan pilihan dari hasil uji coba, contoh, dan praktik
  4. Pengembangan kinerja tim kerja “team work
  5. Mengorganisir iklim dan lingkungan belajar

Contoh pemberdayaan perempuan oleh lembaga sosial bernama “Sahabat Perempuan”. Sahabat perempuan ini merepukan oraganisasi non-pemerintah pertama dikabupaten Magelang dan merupakan badan otonom yang bersifat independen dan nirlaba karena sifatnya yang memang sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat dengan melibatkan 3T didalamnya.

Sehingga dalam proses pemberdayaan sahabat perempuan membagi pemberdayaan perempuan melalui beberapa aspek yaitu :

  1. Pemberdayaan melalui pendampingan. Dilakukan dengan cara :
  2. Pendampingan hukum, yakni pendampingan untuk memberikan bantuan kepada perempuan dan anak korban kekerasan untuk mendapatkan hak-haknya didalam hukum negara.
  3. Pendampingan psikologis, yakni melalui konseling yang membantu survios untuk sanggup melewati masa kritis dan mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan mereka sendiri.
  4. Pendampingan sosial, yakni pendampingan dengan terus membangkitkan jiwa survior agar dapat bangkit dari keterpurukannya, memberikan semangat agar survios dapat kembali bermasyarakat
  5. Pendampingan keagamaan, yakni pendampingan yang diberikan kepada perempuan mengetahui hak-hak perempuan dari keyakinan agama yang dianut masing-masing
  6. Pemberdayaan melalui seni sebagai Trauma Healing, yakni sahabat perempuan memanfaatkan seni untuk terapi penyembuhan trauma bagi survior yang membutuhkan.
  7. Pemberdayaan melalui perpustakaan, yakni dilakukan untuk menambah pengetahuan survior dan masyarakat sekitar.
  8. Pemberdayaan melalui kewirausahaan, penguatan ekonomi ini dilaksanakan dengan pelatihan-pelatihan membuat hadycraf dan pelatihan kewirausahaan dengan memberikan pinjaman uang tanpa bungan tanpa jaminan.

Kesimpulan

Perempuan yang sering dikonstruksikan oleh masyarakat sebagai kaum yang lemah dengan pribahasa “Kasur, Dapur, Sumur” ini menjadikannya sering mendapatkan tindak kekerasan verbal atau pun non verbal perempuan yang mengalami tindak kekerasan sering kali merasa trauma dan kehilangan kepercayaan diri, sehingga mereka memerlukan pemberdayaan agar dapat kembali bangkit dan berdata di lingkungan masyarakat.

Proses pemberdayaan pada perempuan korban kekerasan sangat komplek karena bukan hanya keadaan finansial yang perlu diberdayakan tetapi pemberdayaan psikologisnya juga sangat kompleks.

Dengan kekompleks-an permasalahan yang dihadapi tidak bisa dilali sebuah pemberdayaan tanpa bantuan 3T didalamnya. Karena dengan 3T proses pemberdayaan akan menjadi lebih tertata dan terarah sehingga tujuanpun akan dicapai secara efektif.

3T tidak bisa selesai hanya karena fasilitator berhenti untuk memberdayakan. Karena setelah saatnya perempuan itu bisa mandiri merekalah yang akan melaksanakan 3T itu sendiri. Seperti sebuah lingkaran, 3T merupakan proses yang tidak akan berhenti dari sebuah pemberdayaan.

Implikasi

Implikasi yang bisa penulis berikan adalah :

  1. Sangat berat melakukan pemberdayaan kepada perempuan korban tindak kekerasan oleh sebab itu dukungan dari berbagai kalangan, hukum, tokoh masyarakat sangat diperlukan.
  2. Penggunaan media massa dan media sosial sangat diperlukan dalam sebuah pemberdayaan perempuan tindak kekerasan karena dengan menularkan keresahan kepada orang lain diharapkan orang lain banyak yang peduli terhadap permasalahan ini. Memang benar dalam pemberdayaan komunikasi antar persona adalah jalan terbaik tetapi banyak wanita diluar sana juga mungkin mengalami hal ini. Oleh sebab itu dengan penggunaan media massa dan media sosial akan lebih bisa mengembangkan jaringan pemberdayaan perempuan itu sendiri. Sehingga semakin banyak orang yang tahu semakin banyak orang yang resah semakakin banyak pula yang akan peduli dengan nasib perempuan tidak KDRT.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Abrar Ana Nadhya, Tamtari Wini (Ed) (2001).  Konstruksi Seksualitas Antara Hak dan Kekuasaan. Yogyakarta: UGM.

 

Nurmalasari, Novita Erna. 2012. Pemberdayaan Perempuan Korban Kekerasan Berbasis Feminis oleh “Sahabat Perempuan” di Kabupaten Magelang. Tersedia: http://digilib.uin-suka.ac.id/7676/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf [5 Januari 2014].

 

Poerwandari, K. & Lianawati, E. 2010. Petunjuk penjabaran kekerasan psikis untuk menindaklanjuti laporan kekerasan psikis. Jakarta: Program Studi Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

 

 

Sumpeno, Wahyudin. 2009. Sekolah Masyarakat. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

 

Advertisements

ketika

ketika beranjak tua adalah sesuatu yang tak bisa terelakkan dan menjadi dewasa katanya adalah sebuah pilihan

dan ketika serangkaian keriput yang tak bisa dielakkan terbentuk dalam sebuah paras yang sedang menatap cermin ini maka menjadi dewasa untuk menentukan pilihan dari berbagai macam fase kehidupan adalah sebuah pilihan dari perjalanan kehidupan yang mengantarkanmu pada sebuah ruangan tentang kenangan

ketika kita memasuki sebuah ruangan tentang kenagan maka berjuta kerinduan menyambut dalam hangatnya pelukan, betapa sudah lama kita tidak berbincang dalam lautan kebahagian pun dalam daratan kepedihan

ketika waktu terus berputar kedepan tetapi memori tetap merangsek menarik kebalikan, kerinduanpun takan pernah terpenjarakan, mari sejenak bersemayam dalam nyanyian sumbang tentang sebuah pengharapan untuk tidak pernah dilupakan.

sebuah perjalanan dan ketika

30 hari menulis ini berakhir

setidaknya dalam kurun waktu itu aku ada

penghakiman!

dasar si lancang jalang!

buih sudah ucap yang kau lontarkan,  busukmu tak kuasa terbendung dalam hisapan, berkata yang tak patut demikian dililit oleh selubung penghakiman.

selamat malam, saya hanyalah seoonggok pikiran dari si jalang yang lancang atau si lancang yang jalang. beginilah nasib sebuah celotehan yang lahir karena sebuah penghakiman. terlalu mengagungkan sebuah kotakan pikiran yang cenderung menyusahkan.

hanya ingin menyampaikan sebuah perkataan kepada kalian para hakim yang menghakimi si lancang jalang hanya karena melihat satu buah sudut yang dianggap menjijikan kemudian langsung menyimpulkan mereka adalah sebuah kesialan, tak bermakna apalah hidup yang seperti itu kemudian tertawa dalam sebuah penghakiman tentang kehidupan seseorang.

mari melihatnya dari kedekatan, berharap tidak akan buram dalam menerjemahkan tentang sebuah kehidupan dan penghakiman.

seorang telah lahir dengan sebuah Kuasa, yang kemudian dia mempunyai kuasa dengan tetap dibawah kuasa sang Penguasa, dan lalu seseorang yang lain lahir karena sebuah kuasa, yang kemudian dia mempunyai kuasa dengan tetap dibawah sang Penguasa yang sama dengan seorang yang lahir pertama, kemudian seseorang yang lainnya lagi lahir karena sebuah kuasa, yang kemudian dia mempuanyai kuasa dengan tetap dibawah Penguasa yang sama pula.

lihatlah, dalam kuasa yang sama mereka berdiri dilangit yang sama berlomba untuk menjadi yang berkuasa, halallah mereka bertingkah seperti itu dan mencoba untuk menilai tingkat kekerdilan atau kekuatan yang lainnya bahkan sebuah penghakimanpun akan muncul pada permukaan ketika yang lain mencoba jalan yang berbeda.

bodoh !

mari perhatikan setiap diksi yang ingin kutuliskan, ingat ini hanyalah seonggok pikiran si jalang lancang,

setiap jalan mempunyai rambunya, mempunyai nilai kecepatannya, mempunyai arahnya dan kau tidak bisa menyalahkan si pengemudi ingin memutar ke kanan terlebih dahulu atau ke kiri, dengan alasan yang sangat sederhana yaitu kuasa. dengan kuasa yang sama haram bagimu menghakimi dan apakah ketika memiliki kuasa yang berbeda menjadi halal untuk menghakimi, silahkan ketika kau bisa berkaca pada dirimu apakah pantas untuk menghakimi.

sebuah hakim agung saja harus dijanjikan sebuah kemuliaan atau kesengsaraan atas sebuah penghakimannya. dan kau kalian mereka sangat mudah menghakimi, baiklah hidup ini memang sulit. sulit menjadi ingat bahwa kita adalah sama yang berbeda adalah sebuah pilihan untuk menjadi tidak sama.

pilihlah

lupakan

atau

ingat

sebuah pemikiran dari si lancang jalang

selamat malam

sebuah malam

aku bersandar pada sebuah kotak atau lingkaran aah mungkin itu segitiga, ntahlah yang jelas bentuknya menampakan kerapuhan dalam manusia, sebuah rasa dimana hanya hadir ketika kamu beranjak ‘dewasa’ katanya.

aku tak ingin menceritakannya ketika hari sudah malam, tapi hanya inilah kesempatan dimana sebuah ingatan masih belum terlupakan. aku akan menceritakannya mungkin dengan sebuah sentuhan yang menjijikan, seperti sebuah rabaan yang hadir hanya ketika malam yang memiliki kesempatan.

kataku pada sebuah hati yang memanas dan menggebu, ketidakpercayaan atas apa yang dirasa dalam sebuah malam yang kaku karena begitu dingin oleh perasaan yang hadir dari ketidakpercayaan melihat kenyataan.

tentu saja aku tidak bisa mencaci pun meminta sebuah sanksi

karena akulah yang bersandar pada sebuah bentuk benda ketika malam yang hadir karena kesempatan.

lupakan

ini hanya nyanyian sumbang dari pojok keletihan

dan selamat malam

secara utuh

kau ingin melihatku secara utuh, jangan lancang!

cobalah untuk tidak menunduk pada teriknya matahari

cobalah untuk meliarkan pikiranmu untuk menjadi cerdas

cobalah untuk tidak membungkam mulutmu yang menjadikanmu pecundang

cobalah untuk membuatmu tahu bagaimana cara untuk terbang

dan lihatlah dirimu secara utuh.

dan setelah itu, jangan lancang!

jangan sentuh seincipun dari ruas tubuhku

jika kau belum bisa melihatku secara utuh!

 

bagaimanapun jangan biarkan dirimu tunduk jika itu bukan atas kuasamu

pujalah dia yang ingin kau puja secara utuh !