aku telah ‘jatuh’

“…jatuh memang selalu tanpa ijin”

runtuh sudah tiap inci pagar yang kubangun dari kaktus itu. aku ingin berkata ‘bangsat kau’ dengan mengacungkan jariku tepat didepan wajahmu. dan kau membuatku kembali runtuh karena dengan lancang tersenyum atas keberhasilanmu memasuki ruang yang telah kupagari sejak dulu, sejak mata kita masih jauh untuk saling menatap, sejak mulut kita masih rapat untuk berbincang dan sejak hati kita masih tinggal dengan damai diruangnya masing-masing.

kau tidak akan pernah tahu bahkan pikiranmu pun takkan pernah sanggup membayangkan betapa pagar ini telah menjauhkanku dari berbagai ‘binatang’. tunggu, apa aku terlalu lancang mewakilkan mereka dengan kata binatang. tolong maafkan aku atas kebodohanku yang tidak bisa mencari kata lain untuk mewakilkan mereka para anak adam.

ya, aku memang sejahat demikian. untuk menjaga keakuanku dan lakuku, aku cenderung mengabaikan mereka, menghadang mereka yang mendekat dengan kaktus-kaktus itu bahkan terkadang mungkin membuat mereka terluka ketika mencoba memaksa masuk ke ruangku atau mungkin ini karena aku yang takut terluka jika mereka berhasil melewatinya. sungguh sulit memang, aku terkadang tergoda menggapai uluran tangan mereka dan keluar dari ruangku tanpa paksa, tapi berkat kaktus itu aku tetap kokoh berdiri diruangku. karena pagar kaktus itu adalah mutlak keberadaannya bagiku, tanpanya salah satu diantara kita akan terluka.

dan kau, kini melemparkan setangkai mawar merah keruangku. aku diam hanya menatap mawar yang kau lempar. dan lagi kau melemparkan setangkai mawar merah keruangku. aku mengambil mawar itu dan menatapnya. dan lagi kau melemparkan setangkai mawar merah keruangku. kukumpulkan setiap tangkai mawar yang kau lemparkan padaku, kau tahu bahwa aku harus berlutut untuk mengambilnya?. dan lagi kau melemparkan beribu mawar merah untukku dan membuatku jatuh seketika. aku menatap matamu tajam sedangkan kau terseyum dengan lebar dan mengulurkan tanganmu padaku.

ketika kau mulai melangkah melewati kaktus-kaktus itu tanpa terluka, aku menatapmu dengan harap. perlahan, kau langkahkan kakimu ke arahku dengan terus tersenyum kau tetap mengulurkan tanganmu padaku. apakah kau tau? kau adalah yang pertama yang tidak terluka saat memasuki ruangku dan apa kau akan mengerti bahwa itu adalah hal mustahil bagiku. dan sekarang, tanpa kusadari, tanpa seijinku, dan dengan bodoh aku telah jatuh tepat dihadapanmu dan berharap akan ada tangan yang bisa kugemgam saat ini dan membantuku kembali berdiri.

apakah ini kutukan atau anugrah, seolah tak berdaya aku terpikat oleh uluran tanganmu, tanpa paksa dengan sekedarnya aku ingin meraih uluran tanganmu dan menggenggamnya dengan erat, tapi kau memang binatang bangsat!

dan setelah kau melewati kaktus-kaktus itu tanpa terluka

dan setelah kau melempariku dengan beribu mawar merah

dan setelah kau mengulurkan tanganmu dengan senyuman yang memenuhi wajahmu itu

bangsat kau!

berlalu pergi, begitu saja. meninggalkan tanganku yang sudah ingin meraih tanganmu. aku hanya bisa melihat punggungmu yang melangkah pergi meninggalkan ruangku yang telah kau hancurkan. aku telah jatuh, ya aku telah jatuh tepat dihadapanmu, dan yaa kau telah berhasil mengusik bahkan meghancurkan ruangku. aku akan mengucapkan ‘selamat’ kepadamu tapi tolong ijinkan aku berkata ‘bangsat kau’ dengan mengacungkan jariku tepat didepan wajahmu.

“…kalau jatuh memang harus selalu tanpa ijin ; tidak untuk bangkit”

*tulisan ini didedikasikan untuk seorang perempuan yang telah ‘jatuh’ untuk pertama kalinya. hai cit!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s