rindu, bolehkah?

aku rindu padamu, bolehkah?

lancang memang, daguku tidak pernah tertunduk saat menatapmu. bahkan disaat mata kita tak sengaja saling berpandang dengan ego ku naikan daguku dan menatapmu dalam sampai kau menundukan dagumu lebih dulu. kau tak pantas tapi aku rindu padamu, bolehkah?

lancang memang, kataku menarik ulur rasamu. memancingmu berbicara apa yang hanya ingin kudengar. dan lalu mengabaikanmu dalam kalimat selanjutnya sampai kau terdiam. kau tak pantas tapi aku rindu padamu, bolehkah?

lancang memang, bahagiaku yang egois ketika yang kau tuju hanya aku. saat kau memanggil namaku sedang aku tak tahu itu adalah suaramu, saat kau membuatku tertawa bahkan dengan mempermalukan dirimu, dan saat kau melihatku sedangkan ku tak pernah menengok kearah mu. kau tak pantas tapi aku rindu padamu, bolehkah?

lancang memang, atas usaha terbesar yang kau lakukan untuk berlari kearahku. menundukan dagumu, membuatmu terbata dalam berkata, membuatmu hanya melihat kearahku adalah kesenangan yang kudapat darimu.

lancang memang, tapi aku rindu padamu, bolehkah? dan walaupun yang sekarang yang bisa kutatap hanya punggungmu yang semakin menjauh. kau tidak pantas tapi aku rindu padamu, bolehkah?

 

Jakarta, 6 Juni 2016

“…setelah kau menyuruhku untuk memotong rambutku”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s